Minggu, 30 Desember 2012

Memandang Kehidupan dari Sudut Pandang Allah


Apakah arti hidupmu ?
Yakobus 4:14b

Bagaimana anda mendefinisikan kehidupan menentukan masa depan anda. Perspektif anda akan mempengaruhi cara anda memanfaatkan waktu anda, membelanjakan uang anda, menggunakan talenta anda, dan menilai hubungan anda.

Salah satu cara terbaik untuk memahami orang lain adalah menanyakan mereka, " Bagaimana anda memandang kehidupan anda ? " anda akan menemukan bahwa ada banyak jawaban berbeda untuk pertanyaan tersebut sebanyak jumlah orang yang ditanyai. Saya pernah diberi tahu bahwa kehidupan adalah bagaikan sebuah sirkus, sebuah daerah ranjau, sebuah roller coaster, sebuah teka-teki, sebuah simfoni, sebuah perjalanan, dan sebuah tarian. Orang-orang berkata, " Kehidupan bagaikan roda : Kadang-kadang anda di atas, kadang-kadang anda di bawah, dan kadang anda hanya berputar-putar " atau " kehidupan bagaikan sepeda dengan kecepatan 10 km/jam dengan persneling yang tidak pernah kita pakai " atau " kehidupan bagaikan permainan kartu : anda harus memainkan kartu yang dibagikan kepada anda. "

Jika saya bertanya bagaimana anda menggambarkan kehidupan, gambar apa yang muncul di benak anda ? gambar tersebut adalah metafora kehidupan anda. Itulah pandangan tentang kehidupan yang anda pegang secara sadar atau tidak sadar, dalam pikiran anda. Itulah gambaran anda tentang bagaimana kehidupan berjalan dan apa yang anda harapkan dari kehidupan itu. Orang-orang seringkali menunjukkan metafora kehidupan mereka melalui pakaian, perhiasan, mobil, potongan rambut, tempelan stiker di bemper, bahkan tato.

Metafora kehidupan anda yang tidak diucapkan mempengaruhi kehidupan anda lebih dari yang anda sadari. Ini menentukan harapan-harapan anda, nilai-nilai anda, hubungan-hubungan anda, sasaran-sasaran anda, dan prioritas-prioritas anda. Contohnya, jika anda menganggap kehidupan adalah sebuah pesta, nilai utama anda di dalam kehidupan adalah bersenang-senang. Jika anda melihat kehidupan sebagai suatu balapan, anda akan menghargai kecepatan dan mungkin akan seringkali berada dalam ketergesa-gesaan. Jika anda memandang kehidupan sebagai suatu pertandingan lari maraton, anda akan menghargai ketekunan. Jika anda memandang kehidupan sebagai sebuah pertempuran atau permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi anda.

Bagaimana pandangan anda tentang kehidupan ? anda mungkin mendasarkan kehidupan anda pada suatu metafora kehidupan yang keliru. Untuk memenuhi tujuan-tujuan Allah sang pencipta anda, anda harus menantang pandangan umum dan menggantikan dengan metafora alkitab tentang kehidupan. Alkitab berkata, " Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. " ( Roma 12:2 )

Alkitab memberikan tiga metafora yang mengajarkan kepada kita pandangan Allah tentang kehidupan :
  1. Kehidupan adalah sebuah Ujian
  2. Kehidupan adalah sebuah Kepercayaan
  3. Kehidupan adalah sebuah Penugasan Sementara


Kehidupan adalah sebuah penugasan sementara



Kehidupan di bumi adalah suatu penugasan sementara. Alkitab penuh dengan metafora yang mengajarkan tentang sifat kehidupan di muka bumi, yaitu bersifat singkat, sementara, dan fana. Kehidupan digambarkan seperti kabut, pelari cepat, nafas, dan segumpal asap. Alkitab berkata, " Sebab kita, anak-anak kemarin ... hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi. " ( Ayub 8:9 )

Untuk memanfaatkan kehidupan anda secara maksimal, anda jangan pernah melupakan dua kebenaran : Pertama, dibandingkan dengan kekekalan, kehidupan amatlah singkat. Kedua, bumi hanyalah tempat kediaman sementara. Anda tidak akan lama berada di sini, jadi jangan terlalu terikat pada bumi. Mintalah agar Allah membantu anda melihat kehidupan di bumi sebagaimana Dia melihatnya. Daud berdoa, " TUHAN, tolong aku untuk menyadari betapa singkatnya hidupku di dunia ini ! Tolong aku untuk mengetahui bahwa waktuku di sini hampir habis !" ( Mazmur 39:4 )

Berulang-ulang Alkitab membandingkan kehidupan di bumi dengan kehidupan sementara di sebuah negeri asing. Bumi bukanlah rumah tetap atau tujuan akhir anda. Anda hanya lewat, hanya berkunjung ke bumi. Alkitab menggunakan istilah-istilah seperti orang asing, peziarah, pendatang, pengunjung, dan musafir untuk menggambarkan kediaman kita yang singkat di bumi. Daud berkata, " Aku ini orang asing di dunia " ( Mazmur 119:19 ) dan Petrus menjelaskan, " Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, ... maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini." ( 1 Petrus 1:17 )

Identitas anda ada di dalam kekekalan, dan tanah air anda adalah surga. Bila anda memahami kebenaran ini, anda akan berhenti cemas memikirkan soal " memiliki semuanya " di bumi. Allah berbicara dengan sangat jelas tentang bahayanya jika kita hidup demi waktu sekarang dan jika kita memakai nilai-nilai, prioritas-prioritas, dan gaya hidup dunia sekeliling kita. Bila kita bermain-main dengan pencobaan-pencobaan dunia ini, Allah menyebut perzinahan rohani. Alkitab berkata, " Kamu tidak setia kepada Allah. Jika kamu hanya mau mengikuti kehendakmu sendiri, bermain-main dengan dunia setiap ada kesempatan, maka kamu akhirnya menjadi musuh Allah dan orang yang melawan kehendak-Nya. " ( Yakobus 4:4 )

Bayangkan jika anda diminta oleh negara anda untuk menjadi duta besar di sebuah negara musuh. Anda mungkin harus belajar bahasa yang baru dan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan dan perbedaan budaya agar bisa berlaku sopan dan bisa menyelesaikan misi anda. Sebagai seorang duta besar, anda tidak akan mampu mengisolasi diri dari musuh. Untuk menyelesaikan misi anda, anda tentu harus memiliki kontak dan berhubungan dengan mereka.

Tetapi seandainya anda menjadi begitu nyaman dengan negara asing ini sehingga anda jatuh cinta padanya, dan lebih menyukainya ketimbang tanah air anda. Kesetiaan dan komitmen anda akan berubah. Peran anda sebagai duta besar akan membahayakan. Bukannya mewakili negara asal anda, anda akan mulai bertindak seperti musuh. Anda akan menjadi pengkhianat.

Alkitab berkata, " Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus " ( 2 Korintus 5:20 ) yang menyedihkan, banyak orang Kristen telah mengkhianati Raja mereka dan kerajaan-Nya. Mereka dengan bodohnya menyimpulkan bahwa karena mereka hidup di bumi, maka bumi lah rumah mereka. Padahal bukan. Alkitab dengan jelas berkata, " Saudara-saudaraku, dunia ini bukan rumahmu, karena itu jangan membuat dirimu betah di dalamnya. " ( 1 Petrus 2:11 ) Allah memperingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada apa yang ada di sekeliling kita karena semua itu bersifat sementara. Kita diberi tahu, " Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. " ( 1 Korintus 7:31 )

Fakta bahwa bumi bukanlah rumah terakhir kita memperjelas mengapa, sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita mengalami kesulitan, penderitaan dan penolakan di dalam dunia ini. ( Yohanes16:33 ; 16:20 ; 15:18-19 ) Hal tersebut juga menjelaskan mengapa beberapa janji Allah tampaknya tidak digenapi, beberapa doa tampaknya tidak dijawab, dan beberapa keadaan tampaknya tidak adil. Ini bukanlah akhir kisah.

Untuk menjaga agar kita tidak menjadi terlalu terikat pada dunia, Allah membiarkan kita merasakan cukup banyak kesedihan dan ketidakpuasan di dalam kehidupan, yakni keinginan-keinginan yang tidak pernah akan terpenuhi di sisi ini dari kekekalan. Kita tidak benar-benar bahagia di sini karena seharusnya memang tidak ! Bumi bukanlah rumah terakhir kita ; kita diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih baik.

Seekor ikan tidak pernah bahagia hidup di daratan, karena ikan dijadikan untuk air. Seekor elang tidak pernah bisa merasa puas jika hewan itu tidak dibolehkan terbang. Anda tidak akan pernah merasa benar-benar puas di bumi, karena anda dijadikan untuk sesuatu yang lebih dari itu. Anda akan memiliki saat-saat bahagia di sini, tetapi tidak ada yang sebanding dengan apa yang Allah telah rencanakan bagi anda.

Menyadari bahwa kehidupan di bumi hanyalah suatu penugasan sementara seharusnya mengubah nilai-nilai anda secara radikal. Nilai-nilai kekal dan bukan nilai-nilai sementara, yang seharusnya menjadi faktor-faktor penentu bagi keputusan-keputusan anda. Alkitab berkata, " Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. " ( 2 Korintus 4:18 )

Mengira bahwa tujuan Allah bagi kehidupan anda adalah kekayaan materi atau keberhasilan populer sebagaimana yang didefinisikan oleh dunia adalah salah besar. Kehidupan yang berkelimpahan tidak ada kaitannya dengan kelimpahan materi, dan kesetiaan kepada Allah tidak menjamin keberhasilan dalam karier atau bahkan dalam pelayanan. Jangan pernah memusatkan perhatian pada mahkota-mahkota yang sementara. ( 1 Petrus 2:11 )

Paulus setia, tetapi dia berakhir di penjara. Yohanes Pembaptis setia, tetapi dia dipenggal. Jutaan orang yang setia mati sebagai martir, kehilangan segalanya, atau mencapai ajal tanpa ada hasil apa pun. Tetapi akhir kehidupan bukanlah akhirnya !

Ketika kehidupan menjadi sulit, ketika anda diliputi oleh keraguan, atau ketika anda bertanya-tanya dalam hati apakah hidup bagi Kristus layak diperjuangkan, ingatlah bahwa anda belum pulang. Saat kematian, anda bukan meninggalkan rumah, anda justru pulang.

Kehidupan adalah sebuah kepercayaan


Kehidupan di bumi adalah sebuah kepercayaan. Inilah metafora jenis kedua dalam alkitab tentang kehidupan. Waktu yang kita miliki di bumi serta tenaga, kepandaian, kesempatan, hubungan dan kekayaan kita, semuanya adalah pemberian dari Allah yang Dia percayakan dalam pemeliharaan dan pengelolaan kita. Kitalah penata layan dari segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita. Konsep penata layanan ini dimulai dengan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu dan semua orang di muka bumi. Alkitab berkata, " Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. " ( Mazmur 24:1 )

Kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun selama kediaman singkat kita di bumi. Allah hanya meminjamkan bumi kepada kita pada waktu kita ada di sini. Bumi adalah milik Allah sebelum anda datang, dan Allah akan meminjamkannya kepada orang lain setelah anda meninggal. Anda hanya bisa menikmatinya sesaat.

Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Dia mempercayakan pemeliharaan atas ciptaan-Nya kepada mereka dan menunjuk mereka sebagai pengelola atas milik-Nya. Alkitab berkata, " Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, Aku memberi engkau kuasa. " ( Kejadian 1:28 )

Pekerjaan pertama yang Allah berikan kepada manusia adalah mengelola dan memelihara " barang-barang " Allah di bumi. Peran ini tidak pernah dibatalkan. Ini merupakan sebagian dari tujuan kita sekarang. Segala sesuatu yang kita nikmati harus diperlakukan sebagai sebuah kepercayaan yang Allah tempatkan di tangan kita. Alkitab berkata, " Bukankah segala sesuatu saudara terima dari Allah ? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada saudara itu bukan sesuatu yang diberi ? " ( 1 Korintus 4:7b )

Budaya kita berkata, " Jika kamu tidak memilikinya, kamu tidak akan mempedulikannya. " Tetapi orang-orang Kristen hidup dengan standar yang lebih tinggi : " Karena Allah memilikinya, saya harus memeliharanya sebaik mungkin. " Alkitab mengatakan, " Orang-orang yang kepada mereka dipercayakan sesuatu yang berharga harus menunjukkan bahwa mereka ternyata dapat dipercaya. " ( 1 Korintus 4:2 ). Yesus sering kali menunjuk kehidupan sebagai sebuah kepercayaan dan menceritakan banyak kisah untuk menggambarkan tanggung jawab ini kepada Allah. Dalam kisah tentang talenta, ( Matius 25:14-29 ) seorang pengusaha mempercayakan kekayaannya kepada pemeliharaan hamba-hambanya sementara dia pergi. Ketika dia kembali, dia mengevaluasi tanggung jawab setiap hambanya dan memberi mereka upah atas itu. Sang pemilik berkata, " Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. " ( Matius 25:21 )

Pada akhir kehidupan anda di dunia, anda akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik anda telah mengurus apa yang Allah percayakan kepada anda. Ini berarti segala sesuatu yang anda kerjakan, bahkan tugas-tugas harian yang sederhana, memiliki implikasi kekal. Jika anda memperlakukan segala sesuatu sebagai suatu kepercayaan, Allah menjanjikan tiga imbalan dalam kekekalan yaitu :
  1. Anda akan diberi peneguhan Allah : Dia akan berkata, " Baik sekali perbuatanmu !"
  2. Anda akan menerima promosi dan diberi tanggung jawab yang lebih besar di dalam kekekalan : " Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. "
  3. Anda akan dihormati dengan sesuatu perayaan : " Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. "
Banyak orang gagal menyadari bahwa uang merupakan sebuah ujian sekaligus sebuah kepercayaan dari Allah. Allah menggunakan keuangan untuk mengajar kita untuk mempercayai-Nya, dan bagi banyak orang, uang adalah ujian terbesar. Allah melihat bagaimana kita menggunakan uang untuk menguji bagaimana kita layak dipercayai. Alkitab berkata, " Jadi, kalau mengenai kekayaan dunia ini kalian sudah tidak dapat dipercayai, siapa mau mempercayakan kepadamu kekayaan rohani ? " ( Lukas 16:11 )

 Inilah kebenaran yang sangat penting. Allah berfirman bahwa ada hubungan langsung antara cara saya menggunakan uang saya dengan kualitas kehidupan rohani saya. Bagaimana saya mengelola uang saya ( " kekayaan dunia " ) menentukan seberapa banyak Allah bisa mempercayai saya dengan berkat-berkat rohani ( " kekayaan rohani " ).  Izinkan saya bertanya kepada anda : Apakah cara anda mengelola uang anda menghalangi Allah melakukan lebih banyak hal di dalam kehidupan anda ? Bisakah anda dipercayai dengan kekayaan-kekayaan rohani ?

Yesus berkata, " Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. " ( Lukas 12:48b ). Kehidupan merupakan ujian dan kepercayaan, dan semakin banyak Allah memberi kepada anda, semakin banyak tanggung jawab yang Dia harapkan dari anda.

Kehidupan adalah sebuah ujian


Kehidupan di bumi adalah sebuah ujian. Metafora kehidupan yang ini terlihat dalam kisah-kisah di seluruh alkitab. Alkitab terus-menerus menguji karakter, iman, ketaatan, kasih, integritas, dan kesetiaan manusia. Kata-kata seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian muncul lebih dari 200 kali dalam alkitab. Allah menguji Abraham dengan menyuruhnya mempersembahkan anaknya Ishak. Allah menguji Yakub ketika dia harus bekerja beberapa tahun tambahan untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya.

Adam dan Hawa gagal dalam ujian mereka di Taman Eden, dan Daut gagal dalam ujiannya yang diberi Allah pada beberapa peristiwa. Tetapi alkitab juga memberi kita banyak teladan dari orang-orang yang lulus dalam ujian besar, seperti Yusuf, Rut, Ester, dan Daniel.

Karakter dikembangkan dan ditunjukkan melalui ujian-ujian, dan seluruh kehidupan adalah ujian. Anda selalu diuji. Allah terus-menerus mengamati tanggapan anda pada orang-orang, pada masalah, pada keberhasilan, pada konflik, pada penyakit, pada kekecewaan, dan bahkan pada cuaca ! Allah bahkan mengamati tindakan-tindakan yang paling sederhana seperti ketika anda membuka pintu untuk orang lain, ketika anda mengangkat sepotong sampah, atau ketika anda bersikap sopan terhadap seorang juru tulis atau pelayan.

Kita tidak tahu semua ujian yang akan Allah berikan kepada anda, tetapi kita bisa memperkirakan sebagian, berdasarkan alkitab. Anda akan diuji melalui perubahan-perubahan besar, janji-janji yang tertunda, masalah-masalah yang sulit, doa-doa yang tak terjawab, kritikan-kritikan yang tidak layak diterima, dan bahkan tragedi yang tidak masuk akal. Dalam kehidupan saya sendiri saya melihat bahwa Allah menguji iman saya melalui masalah-masalah, menguji pengharapan saya melalui cara saya menangani harta, dan menguji kasih saya melalui orang-orang.

Ujian yang sangat penting adalah bagaimana anda bertindak ketika anda tidak bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan anda. Kadang-kadang Allah dengan sengaja mundur, dan kita tidak merasakan kedekatan-Nya. Seorang raja bernama Hizkia mengalami ujian ini. Alkitab berkata, " Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya. " ( 2 Tawarikh 32:31 ) Hizkia telah menikmati suatu persekutuan yang dekat dengan Allah, tetapi pada titik penting dalam kehidupannya Allah meninggalkannya sendiri untuk menguji karakternya, untuk menunjukkan kelemahannya, dan untuk mempersiapkan dia guna menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Ketika anda memahami bahwa kehidupan adalah ujian, anda menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting di dalam kehidupan anda. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti penting bagi pengembangan karakter anda. Tiap hari merupakan hari yang penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperdalam karakter anda, untuk menunjukkan kasih, atau untuk bergantung pada Allah. Beberapa ujian terasa sangat berat, sementara ujian lainnya bahkan tidak anda perhatikan. Tetapi semuanya memiliki makna kekal.

Kabar baiknya adalah Allah ingin agar anda lulus dalam ujian-ujian kehidupan itu, sehingga Dia tidak pernah membiarkan ujian-ujian yang anda hadapi itu melampaui kasih karunia yang Dia berikan kepada anda untuk menghadapinya. Alkitab berkata, " Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. " ( 1 Korintus 10:13 )

Setiap kali anda lulus dalam sebuah ujian, Allah melihat dan membuat rencana untuk memberi anda upah di dalam kekekalan. Yakobus berkata, " Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia. " ( Yakobus 1:12 )

Selasa, 06 November 2012

Diciptakan untuk kekekalan

Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka
Pengkhotbah 3:11


Kehidupan di bumi hanyalah gladi bersih sebelum pelaksanaan yang sesungguhnya. Anda akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu di sisi lain dari sesudah kematian, yaitu di dalam kekekalan, dari pada waktu di bumi ini. Bumi adalah daerah persiapan, pra-sekolah, uji coba bagi kehidupan anda di kekekalan. Inilah masa latihan sebelum permainan yang sesungguhnya ; putaran pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Kehidupan ini adalah persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya.

Anda bisa hidup paling tinggi seratus tahun di bumi, tetapi anda akan hidup selamanya di kekekalan. Anda diciptakan untuk hidup selama-lamanya.

Alkitab berkata, " Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. " ( Pengkhotbah 3:11 ). Anda memiliki suatu naluri bawaan yang merindukan kekekalan. Ini karena Allah merancang anda, menurut gambar-Nya, untuk hidup kekal. Sekalipun kita tahu bahwa semua orang akhirnya meninggal, kematian selalu terasa tidak wajar dan tidak adil. Alasannya mengapa kita merasa bahwa seharusnya kita hidup selamanya adalah karena Allah melengkapi otak kita dengan keinginan tersebut !

Suatu hari jantung anda akan berhenti berdetak. Ini akan merupakan  akhir tubuh anda dan waktu anda di bumi, tetapi tidak akan merupakan akhir dari diri anda. Tubuh duniawi anda hanyalah kediaman sementara bagi roh anda. Alkitab menyebut tubuh duniawi anda suatu " kemah, " tetapi menunjuk pada tubuh masa depan anda sebagai sebuah " rumah. " Alkitab berkata, " Jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. " ( 2 Korintus 5:1 )

Sementara kehidupan di bumi menawarkan banyak pilihan, kekekalan menawarkan hanya dua pilihan : sorga atau neraka. Hubungan anda dengan Allah di bumi akan menentukan hubungan anda dengan-Nya di dalam kekekalan. Jika anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai anak Allah, Yesus, anda akan diundang untuk menghabiskan kekekalan anda bersama Dia. Sebaliknya, jika anda menolak kasih, pengampunan, dan keselamatan-Nya, anda akan menghabiskan kekekalan anda terpisah dari Allah selamanya.

Apabila anda sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekadar yang ada sekarang, dan anda memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, anda akan mulai hidup dengan berbeda. Anda akan mulai hidup dalam terang kekekalan, dan itu akan mewarnai cara anda menangani semua hubungan, tugas dan keadaan. Tiba-tiba banyak kegiatan, sasaran dan bahkan masalah yang tampak begitu penting akan kelihatan tidak penting, kecil, dan tidak layak mendapatkan perhatian anda. Semakin dekat anda hidup dengan Allah, semakin kecil kelihatannya segala sesuatu yang lain.

Ketika anda hidup dengan mempertimbangkan kekekalan, nilai-nilai anda berubah. Anda menggunakan waktu dan uang anda secara lebih bijak. Anda menghargai lebih tinggi pada hubungan dan karakter daripada kepopuleran atau kekayaan atau prestasi atau bahkan kesenangan. Prioritas-prioritas anda ditata ulang. Soal mengikuti trend, model pakaian, dan nilai-nilai populer tidaklah penting lagi. Paulus berkata, " Aku pernah menganggap semua hal ini sangat penting, tetapi sekarang aku menganggap semua itu tidak berharga karena apa yang telah Kristus lakukan. " ( Filipi 3:7 )

Seperti apakah keadaannya kelak di dalam kekekalan bersama Allah ? Terus terang, kemampuan otak kita tidak bisa menghadapi keajaiban dan kehebatan surga. Itu sama seperti mencoba menggambarkan internet kepada seekor semut. Tidak ada gunanya. Belum ditemukan kata-kata yang mungkin bisa menyampaikan pengalaman kekekalan. Alkitab berkata, " Tidak seorang manusia pun pernah melihat, mendengar atau pun membayangkan hal-hal indah yang disediakan Allah bagi orang yang mengasihi Dia. " ( 1 Korintus 2:9 )

Namun Allah telah memberikan kepada kita penglihatan sekilas tentang kekekalan di dalam Firman-Nya. Kita mengetahui bahwa saat ini juga Allah sedang mempersiapkan sebuah rumah kekal bagi kita. Di surga kita akan dipersatukan kembali dengan saudara-saudara kita yang adalah orang-orang yang percaya, dibebaskan dari segala penderitaan dan kesusahan, diberi upah atas kesetiaan kita di bumi, dan ditugaskan kembali untuk melakukan pekerjaan yang akan senang kita lakukan. Kita bukan akan berbaring di awan-awan dengan mahkota sambil memainkan harpa ! Kita akan menikmati hubungan yang tak pernah putus dengan Allah, dan Dia akan memiliki kita untuk selama-lamanya. Suatu hari Yesus akan berkata, " Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. " ( Matius 25:34 )

Allah memiliki suatu tujuan bagi kehidupan anda di dunia, tetapi itu tidak berakhir di sini. Rencana-Nya mencakup jauh lebih banyak dari pada beberapa dekade yang akan anda habiskan di planet ini. Itu bukan sekadar " kesempatan seumur hidup " ; Allah memberi anda suatu kesempatan yang melebihi umur hidup anda. Alkitab berkata, " Rencana Tuhan tetap selama-lamanya, tujuan-tujuan-Nya kekal. " ( Mazmur 33:11 )

Jika anda memiliki suatu hubungan dengan Allah melalui Yesus, anda tidak perlu takut akan kematian. Itulah pintu menuju kekekalan. Kematian akan menjadi jam terakhir dari waktu anda di bumi, tetapi bukan akhir dari diri anda. Bukannya merupakan akhir dari kehidupan anda, kematian justru merupakan hari kelahiran anda ke dalam kehidupan kekal. Alkitab berkata, " Sebab dunia ini bukanlah tempat tinggal kita ; dengan penuh pengharapan kita menantikan tempat tinggal kita yang kekal di surga. " ( Ibrani 13:14 )

Dibandingkan dengan kekekalan, waktu kita di bumi hanyalah sekejap mata, tetapi akibatnya akan kekal. Perbuatan-perbuatan dalam kehidupan ini menentukan nasib dalam kehidupan berikutnya. Kita seharusnya " Sadar bahwa selama kita masih hidup di dunia ini selama itu pula kami jauh dari surga, tempat Yesus berada. " ( 2 Korintus 5:6 ). Bertahun-tahun lalu sebuah slogan populer mendorong orang-orang untuk hidup setiap hari seperti " hari pertama dari sisa hidup anda. " Sesungguhnya, akan lebih bijak untuk hidup setiap hari seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kehidupan anda. " Seharusnya setiap hari kita bersiap-siap untuk menghadapi hari terakhir kita. "

Jumat, 26 Oktober 2012

Kunci mengalami ketenangan hidup

Baca : Mazmur 62:1-13

Di manakah kita akan menemukan ketenangan dalam hidup ini ?

Banyak orang berpikir bahwa hidup tenang hanya akan mereka rasakan ketika mereka punya uang ratusan juta atau deposito di bank, kekayaan yang melimpah, punya satpam yang menjaga rumah kita selama 24 jam penuh dan sebagainya. Fakta membuktikan, banyak orang kaya yang hidupnya tidak tenang : selalu was-was dengan hartanya, khawatir dengan perusahaannya dan lain-lain. Namun pemazmur menegaskan bahwa orang yang tinggal di dalam Tuhan ( dekat dengan Tuhan ) pasti akan mengalami ketenangan dalam hidupnya. Masalah boleh saja datang, namun kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita. Alkitab mengatakan, " Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. " ( Ibrani 13:5b ).

Hidup dalam ketidaktenangan, kacau, khawatir, cemas, panik dan lain-lain adalah hal yang sangat disukai oleh iblis. Sebab orang yang tidak tenang dalam hidupnya pasti akan mengalami kesulitan untuk berdoa dan fokus kepada Tuhan. Itulah sebabnya Rasul Petrus menasihati, " Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa. " ( 1 Petrus 4:7b ). Doa yang lahir dari hati yang tenanglah yang dapat merasakan hadirat Tuhan.

Apa kunci mengalami ketenangan ?

Pertama, dekat dengan Tuhan atau memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan ( melakukan firman Tuhan ). Ini berarti kita tidak meninggalkan jam-jam doa dan juga ibadah kita. Daud adalah contoh pribadi yang sangat dekat dengan Tuhan. " Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam ! Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain ; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik. " ( Mazmur 84:2, 11 )

Kedua, punya penyerahan diri kepada Tuhan. Artinya kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan. Nasihat Daud, " Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. " ( Mazmur 37:5 )

Ketiga, hidup dalam kebenaran. Alkitab mengatakan, " Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. " ( Yesaya 32:17 )

IMAN KEPADA YESUS KRISTUS MENGALAHKAN DUNIA

Minggu, 21 Oktober 2012

Berbagai manfaat kehidupan yang digerakkan oleh tujuan

Ada lima manfaat besar dari kehidupan yang memiliki tujuan :

Mengenali tujuan anda memberi makna bagi kehidupan anda.

Kita diciptakan untuk memiliki makna. Itulah sebabnya manusia mencoba metode-metode yang meragukan, seperti astrologi atau fisika, untuk menemukan makna tersebut. Apabila kehidupan memiliki makna, anda bisa menanggung hampir segala hal; tanpa makna, tidak ada sesuatupun yang bisa ditanggung.

Tanpa Allah, kehidupan tidak memiliki tujuan, dan tanpa tujuan, kehidupan tidak memiliki makna. Tanpa makna, kehidupan tidak memiliki arti atau harapan. Dalam alkitab, bermacam-macam orang mengekspresikan keputusasaan ini. Yesaya mengeluh, " Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna. " ( Yesaya 49:4 ) Ayub berkata, " Hari-hari hidupku meluncur dengan cepatnya, habis tanpa harapan. " ( Ayub 7:6 ) dan " Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hari ku hanya seperti hembusan nafas saja. " ( Ayub 7:16 ) Tragedi terbesar bukanlah kematian, melainkan kehidupan tanpa tujuan.

Jika anda merasa putus asa, bertahanlah ! Perubahan-perubahan yang mengagumkan akan terjadi dalam kehidupan anda ketika anda mulai menjalaninya dengan suatu tujuan. Allah berfirman, " Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, ...yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. " ( Yeremia 29:11 ) Anda mungkin merasa sedang menghadapi suatu situasi yang mustahil, tetapi Alkitab berkata, " Allah ... dapat melakukan jauh lebih banyak hal dari pada yang berani kita bayangkan - sama sekali melebihi segala doa, keinginan, pikiran dan pengharapan kita. " ( Efesus 3:20 )

Mengenali tujuan anda memudahkan kehidupan anda.

Tujuan hidup menetapkan apa yang anda kerjakan dan apa yang tidak anda kerjakan. Tujuan anda menjadi patokan yang anda pakai untuk mengevaluasi kegiatan-kegiatan mana yang penting dan mana yang tidak. Anda hanya bertanya, " Apakah kegiatan ini membantu saya memenuhi salah satu dari tujuan Allah bagi kehidupan saya ? "

Tanpa suatu tujuan yang jelas anda tidak memiliki dasar di mana anda melandasi keputusan anda, membagi waktu anda, dan menggunakan sumber daya anda. Anda akan cenderung membuat pilihan-pilihan berdasarkan situasi, tekanan dan suasana hati anda kala itu. Orang-orang yang tidak mengenali tujuan mereka berusaha untuk melakukan terlalu banyak hal dan hal itulah yang menyebabkan rasa tertekan, kelelahan dan konflik.

Mustahil melakukan segala hal yang orang lain ingin anda lakukan. Anda hanya memiliki cukup waktu untuk melakukan kehendak Allah. Jika anda tidak bisa menyelesaikan semuanya, itu berarti anda sedang mencoba melakukan lebih dari apa yang Allah maksudkan untuk anda lakukan ( atau, mungkin, anda terlalu banyak menonton televisi ). Kehidupan yang memiliki tujuan membawa pada gaya hidup yang lebih sederhana dan jadwal yang lebih terkendali. Alkitab berkata, " kehidupan yang mewah dan suka pamer adalah kehidupan yang kosong ; kehidupan yang biasa dan sederhana adalah kehidupan yang penuh. " ( Amsal 13:7 ) Kehidupan yang memiliki tujuan juga membawa kepada ketenangan pikiran : " Engkau, TUHAN, memberikan damai sejahtera yang sempurna kepada orang-orang yang mengikuti dengan teguh tujuan mereka dan menaruh kepercayaan mereka kepada-Mu." ( Yesaya 26:3 ).

Mengenali tujuan anda membuat kehidupan anda memiliki fokus

Tujuan itu akan memusatkan usaha dan energi anda pada apa yang penting. Anda menjadi efektif karena bersikap selektif.

Tanpa tujuan yang jelas, anda akan terus mengubah arah, pekerjaan, hubungan, gereja, atau lingkungan - dengan berharap bahwa setiap perubahan akan menghentikan kebingungan atau mengisi kekosongan di dalam hati anda. Anda berpikir, mungkin sekarang akan berbeda, tetapi itu tidak memecahkan masalah anda yang sesungguhnya, yaitu kurangnya fokus dan tujuan.

Alkitab berkata, " Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. " ( Efesus 5:17 )

Kuasa karena memiliki fokus adalah ibarat cahaya. Cahaya yang menyebar memiliki sedikit kuasa atau pengaruh, tetapi anda bisa memusatkan energinya dengan memfokuskannya. Dengan kaca pembesar, sinar matahari bisa difokuskan untuk membakar rumput atau kertas. Ketika cahaya lebih difokuskan lagi seperti sinar laser, ia bisa memotong baja.

Rahasianya adalah kehidupan yang terfokus. Paulus berkata, " Aku memfokuskan seluruh tenagaku pada satu hal ini : Melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku. " ( Filipi 3:13 )

Jika anda ingin hidup anda memiliki pengaruh, fokuskanlah ! Berhentilah bermain-main. Berhentilah mencoba melakukan segala hal. Kurangi hal-hal yang anda lakukan. Bahkan kurangi kegiatan-kegiatan yang baik dan hanya melakukan hal-hal yang paling penting. Jangan pernah mengacaukan antara aktivitas dengan produktivitas. Anda bisa sibuk tanpa memiliki tujuan, tetapi apa gunanya ? Paulus berkata, " Marilah kita tetap fokus pada sasaran itu, kita yang ingin mencapai segala sesuatu yang Allah sediakan bagi kita. " ( Filipi 3:15 )

Mengenali tujuan anda akan memotivasi kehidupan anda

Tujuan selalu menghasilkan keinginan yang kuat. Tidak ada yang bisa membangkitkan energi seperti tujuan yang jelas. Sebaliknya, keinginan yang kuat memudar bila anda tidak mempunyai tujuan. Bangun dari tempat tidur saja menjadi suatu tugas besar. Biasanya pekerjaan yang tidak berarti, dan bukan kelebihan kerja, yang meletihkan kita, menguras tenaga kita, dan merampas sukacita kita.

Anda tidak ditempatkan di bumi untuk diingat. Anda ditempatkan di sini untuk bersiap-siap menghadapi kekekalan.

Mengenali tujuan anda akan mempersiapkan anda untuk menghadapi kekekalan

Banyak orang menghabiskan hidupnya dengan berupaya menciptakan warisan yang tanpa akhir di bumi. Hidup untuk menghasilkan warisan dunia adalah sasaran yang dangkal. Adalah lebih bijaksana kalau orang menggunakan waktunya untuk membangun suatu warisan kekal.

 Suatu hari anda akan berdiri di hadapan Allah, dan dia akan memeriksa kehidupan anda, suatu ujian akhir, sebelum anda memasuki kekekalan. Alkitab mengatakan, " Sebab kita semua harus menghadapi takhta pengadilan Allah ... Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. " ( Roma 14:10b,12 ) Untunglah, Allah ingin kita lulus ujian tersebut, karena Dia telah memberi kita pertanyaan-pertanyaannya sebelumnya. Dari Alkitab kita bisa menyimpulkan bahwa Allah akan menanyai kita dengan dua pertanyaan penting :

Pertama, " Apa yang telah kamu lakukan terhadap Anak-Ku, Yesus Kristus ? "
Allah tidak akan bertanya tentang latar belakang agama atau pandangan doktrin anda. Satu-satunya hal yang penting adalah apakah anda menerima apa yang Yesus kerjakan bagi anda dan apakah anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai-Nya ? Yesus berkata, " Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. " ( Yohanes 14:6 )

Kedua, "Apa yang telah kamu lakukan terhadap apa yang telah Aku berikan kepadamu ?"
Apa yang telah anda lakukan dengan kehidupan anda, yakni semua karunia, talenta, kesempatan, energi, hubungan, dan kekayaan yang telah Allah berikan kepada anda ? Apakah anda menggunakannya bagi diri anda sendiri, ataukah anda menggunakannya bagi tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan anda ?

Sabtu, 29 September 2012

Apa yang menggerakkan kehidupan anda ?

Aku melihat bahwa pada dasarnya segala jerih payah dan keberhasilan orang didorong oleh perasaan iri hatinya  ( Pengkhotbah 4:4 )

Banyak orang digerakkan oleh rasa bersalah

Mereka menghabiskan seluruh hidup mereka dengan berlari dari rasa penyesalan dan menyembunyikan rasa malu mereka. Orang-orang yang digerakkan oleh rasa bersalah di manipulasi oleh ingatan-ingatan. Mereka membiarkan masa lalu mereka mengendalikan masa depan mereka. Mereka sering kali secara tidak sadar menghukum diri sendiri dengan merusakkan keberhasilan mereka sendiri. Ketika Kain berdosa, rasa bersalahnya memisahkan diri dari hadirat Allah dan Allah berfirman, " Engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi. " ( Kejadian 4:12 ) Hal tersebut menggambarkan sebagian besar orang saat ini, yang menjalani kehidupan tanpa suatu tujuan.

Kita adalah produk dari masa lalu kita, tetapi kita tidak perlu menjadi tawanan masa lalu. Tujuan Allah tidak dibatasi oleh masa lalu anda. Dia mengubah seorang pembunuh bernama Musa menjadi seorang pemimpin dan seorang pengecut bernama Gideon menjadi seorang pahlawan yang gagah berani, dan Dia juga mampu melakukan hal-hal ajaib dalam sisa hidup anda. Allah ahli dalam memberi orang-orang suatu awal yang baru. Alkitab berkata, " Alangkah bahagianya orang-orang yang kesalahannya telah diampunkan ! ... Alangkah leganya hati orang yang telah mengakui dosa-dosanya dan Allah telah menghapus semua dosa itu. " ( Mazmur 32:1 )

Banyak orang digerakkan oleh kebencian dan kemarahan

Mereka mempertahankan kepahitan dan tidak pernah sembuh darinya. Bukannya melepaskan penderitaan mereka melalui pengampunan, mereka mengulanginya berkali-kali dalam pikiran mereka. Sebagian orang yang digerakkan oleh kebencian bersifat " bungkam " dan menyimpan sendiri kemarahan mereka, sementara sebagian lain bersikap " amat marah " dan mencetuskannya kepada orang lain. Kedua tanggapan tersebut tidak sehat dan tidak berguna.

Kebencian selalu lebih melukai anda ketimbang orang yang anda benci. Sementara orang yang menyakiti hati anda mungkin telah melupakan perbuatan mereka tersebut dan melanjutkan hidup, anda terus dipenuhi penderitaan anda, dengan mengabadikan masa lalu.

Perhatikan : Orang-orang yang melukai anda pada masa lalu tidak mungkin terus melukai anda sekarang kecuali jika anda mempertahankan rasa sakit itu melalui kebencian. Masa lalu anda adalah masa lalu ! tidak ada yang bisa mengubahnya. Anda hanya melukai diri dengan kepahitan anda. Demi diri anda sendiri, belajarlah dari masa lalu tersebut, lalu jangan mengingatnya lagi. Alkitab berkata, " Hanyalah orang yang bodoh saja yang mati sebab sakit hatinya. " ( Ayub 5:2 )

Banyak orang digerakkan oleh rasa takut

Ketakutan-ketakutan mereka mungkin merupakan akibat dari adanya pengalaman traumatis, harapan-harapan yang tidak masuk akal, bertumbuh dalam keluarga dengan pengawasan keras, atau bahkan kecenderungan genetik. Tanpa memandang penyebabnya, orang-orang yang digerakkan oleh ketakutan sering kali kehilangan kesempatan-kesempatan besar karena mereka takut untuk menanggung risiko. Sebaliknya, mereka mencari aman, menghindari risiko-risiko dan berupaya untuk memelihara status quo.

Ketakutan adalah penjara yang dibangun oleh diri sendiri yang akan menghalangi anda untuk menjadi apa yang Allah maksudkan bagi anda. Anda harus bergerak melawannya dengan senjata iman dan kasih. Alkitab mengatakan, " Di dalam kasih tidak ada ketakutan : kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barang siapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. " ( 1 Yohanes 4:18 )

Banyak orang digerakkan oleh materialisme

Keinginan mereka untuk memiliki menjadi keseluruhan sasaran kehidupan mereka. Gerakkan hati untuk selalu ingin lebih ini didasarkan pada kesalahpahaman bahwa memiliki lebih banyak akan membuat orang lebih bahagia, lebih penting, dan lebih aman, tetapi ketiga gagasan ini tidak benar. Hal-hal yang dimiliki hanya memberikan kebahagiaan sementara. Karena hal-hal tidak berubah, kita akhirnya menjadi bosan dengannya, dan selanjutnya mengingini jenis-jenis yang lebih baru, yang lebih besar dan lebih baik.

mitos mengenai uang, bahwa memiliki lebih banyak uang akan membuat saya lebih aman. Tidak akan demikian. Kekayaan bisa hilang dalam sekejap melalui berbagai faktor yang tidak bisa dikendalikan. Rasa aman yang sesungguhnya hanya bisa ditemukan di dalam apa yang tidak pernah bisa diambil dari anda, yaitu hubungan anda dengan Allah. 

Banyak orang digerakkan oleh kebutuhan akan pengakuan

Mereka membiarkan harapan-harapan orang tua atau pasangan atau anak atau guru-guru atau teman mengendalikan kehidupan mereka. Banyak orang dewasa tetap berusaha untuk mendapatkan pengakuan orang tua yang tidak bisa disenangkan. Orang lain digerakkan oleh tekanan teman sebaya, selalu khawatir oleh apa yang mungkin di pikir oleh orang lain. Sayangnya, orang-orang yang mengikuti orang banyak biasanya terpengaruh oleh pantangan orang banyak itu.

Saya tidak mengetahui semua kunci menuju keberhasilan, tetapi salah satu kunci menuju kegagalan adalah berusaha menyenangkan semua orang. Dikendalikan oleh pendapat orang lain adalah cara yang pasti untuk kehilangan tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan anda. Yesus berkata, " Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. " ( Matius 6:24 )

Ada kekuatan lain yang bisa menggerakkan kehidupan anda, tetapi semuanya akan membawa kepada jalan buntu. Bagaimana menjalani suatu kehidupan yang memiliki tujuan ? yaitu suatu kehidupan yang dituntun, dikendalikan, dan dipimpin oleh tujuan-tujuan Allah. Tidak ada hal yang lebih penting dari pada mengetahui tujuan-tujuan Allah bagi kehidupan anda, dan tidak ada yang bisa mengganti kerugiannya jika anda tidak mengetahui tujuan-tujuan tersebut, entah itu keberhasilan, kekayaan, kepopuleran, ataupun kesenangan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan bagaikan gerakan tanpa makna, kegiatan tanpa arah, dan peristiwa tanpa alasan. Tanpa suatu tujuan, kehidupan tidak berarti.

Senin, 17 September 2012

Anda ada bukan karena kebetulan

Beginilah firman TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentuk engkau sejak dari kandungan.

Kelahiran anda bukanlah suatu kesalahan atau kesialan, dan kehidupan anda bukanlah yang tidak diharapkan dari alam. Orang tua anda mungkin tidak merencanakan anda, tetapi Allah merencanakannya. Dia tidak terkejut sama sekali dengan kelahiran anda. Sesungguhnya, Dia mengharapkannya.

Jauh sebelum anda ada dalam benak orang tua anda, anda sudah ada dalam pikiran Allah. Dia memikirkan anda terlebih dahulu. Bukan karena nasib, bukan karena kesempatan, bukan karena keberuntungan, juga bukan karena kebetulan, anda bernafas saat ini. Anda hidup karena Allah ingin menciptakan anda ! Alkitab berkata, " Tuhan akan menggenapi tujuan-Nya bagiku. " ( Mazmur 138:8a )

Allah merancang setiap bagian tubuh anda. Dia dengan terencana memilih ras anda, warna kulit anda, rambut anda, dan setiap karakteristik lainnya. Dia merancang dan membuat tubuh anda seperti yang Dia inginkan. Dia juga menentukan talenta-talenta alami yang akan anda miliki dan keunikan dari kepribadian anda. Alkitab berkata, " Engkau mengenalku lahir dan batin, engkau mengenal setiap tulang dalam tubuhku; Engkau mengetahui persis bagaimana aku dijadikan, sedikit demi sedikit, bagaimana aku dipahat dari kehampaan menjadi sesuatu. " ( Mazmur 139:15 )

Karena Allah membuat anda untuk suatu alasan, Dia juga memutuskan kapan anda akan dilahirkan dan berapa lama anda akan hidup. Dia terlebih dulu sudah merencanakan hari-hari hidup anda, memilih waktu yang tepat untuk kelahiran dan kematian anda. Alkitab berfirman, " Sebelum aku lahir, Engkau telah melihat aku. Sebelum aku mulai bernafas, Engkau telah merencanakan setiap hari hidupku. Setiap hariku tercantum dalam kitab itu. " ( Mazmur 139:16 )

 Allah juga merencanakan di mana anda akan dilahirkan dan di mana anda akan hidup untuk tujuan-Nya. Ras dan kebangsaan anda bukan suatu kebetulan. Allah tidak membiarkan satu bagian pun terjadi secara untung-untungan. Dia merencanakan semuanya untuk tujuan-Nya. Alkitab berkata, " Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa ... dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka. " ( Kisah 17:26 ) Tidak ada satu hal pun dalam hidup anda yang terjadi dengan semuanya. Semuanya untuk suatu tujuan.

Yang paling mengagumkan, Allah menentukan bagaimana anda akan dilahirkan. Tanpa memandang kondisi kelahiran anda atau siapa orang tua anda, Allah memiliki rencana ketika menciptakan anda. Tidak peduli apakah orang tua anda baik, buruk atau acuh tak acuh. Allah mengetahui bahwa mereka berdua benar-benar memiliki sifat-sifat genetik yang tepat untuk menciptakan anda yang sudah ada dalam pikiran-pikiran-Nya. Mereka memiliki DNA yang Allah inginkan untuk menjadikan anda.

Walaupun ada orang tua yang tidak sah, tidak ada anak-anak yang tidak sah. Banyak anak tidak direncanakan oleh orang tua mereka, tetapi mereka bukanlah tidak direncanakan oleh Allah. Tujuan Allah memperhitungkan juga kesalahan manusia, dan bahkan dosa.

Allah tidak pernah melakukan apa pun secara kebetulan, dan Dia tidak pernah membuat kesalahan. Dia memiliki alasan untuk segala sesuatu yang Dia ciptakan. Setiap tumbuhan dan binatang direncanakan oleh Allah, dan setiap orang dirancang dengan suatu tujuan di dalam pikiran. Motivasi Allah dalam menciptakan anda adalah kasih-Nya. Alkitab mengatakan, " Jauh sebelum dunia dijadikan Allah telah merancang kita di dalam pikiran-Nya, menetapkan kita sebagai pusat kasih-Nya. " ( Efesus1:4a )

Allah memikirkan anda bahkan sebelum Dia menjadikan dunia. Sebetulnya, inilah sebabnya Dia menciptakan dunia. Allah merancang lingkungan planet ini hanya agar kita bisa hidup di dalamnya. Kita adalah pusat kasih-Nya dan merupakan yang paling berharga dari semua ciptaan-Nya. Alkitab berkata, " Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya. " ( Yakobus 1:18 ) Betapa Allah begitu mengasihi dan menghargai anda !

Allah tidak serampangan; Dia merencanakan semuanya dengan ketepatan yang luar biasa. Semakin hebat ahli-ahli fisika, biologi, dan ilmuwan lainnya mempelajari alam semesta, semakin baik kita memahami betapa alam semesta secara unik pas bagi keberadaan kita, dirancang dan dibuat dengan kekhususan-kekhususan yang tepat yang memungkinkan manusia hidup.



Mengapa Allah melakukan semuanya ini ? Mengapa Dia bersusah-payah menciptakan sebuah alam semesta bagi kita ? Karena Dia adalah Allah yang kasih. Jenis kasih ini sulit untuk dipahami, tetapi benar-benar bisa dipercayai. Anda diciptakan sebagai sasaran khusus dari kasih Allah ! Allah menjadikan anda supaya Dia bisa mengasihi anda. Inilah sebuah kebenaran untuk dijadikan landasan kehidupan kita.

Alkitab berkata, " Allah adalah kasih. " ( 1 Yohanes 4:8 ) Ayat ini tidak berkata Allah memiliki kasih. Dia adalah kasih ! Kasih adalah hakikat karakter Allah. Ada kasih yang sempurna dalam persekutuan Trinitas, jadi Allah tidak perlu menciptakan anda. Dia tidaklah kesepian. Tetapi Dia ingin menciptakan anda untuk menyatakan kasih-Nya. Allah berfirman, " Dengarkanlah Aku ... hai orang-orang yang Ku dukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Ku junjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu. " ( Yesaya 46:3-4 )

Rabu, 12 September 2012

Sesungguhnya untuk apakah aku ada di dunia ?

Siapa mempercayakan dirinya kepada kekayaannya akan jatuh, tetapi orang benar akan tumbuh seperti daun muda (Ams 11:28 )

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, ... Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. ( Yeremia 17:7-8 )

Karena di dalam Dialah  telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, ... segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. ( Kolose 1:16 )

Tujuan hidup anda jauh lebih besar dari pada prestasi pribadi anda, ketenangan pikiran anda, atau bahkan kebahagiaan anda. Ini  jauh lebih besar dari pada keluarga anda, karier anda, atau bahkan mimpi-mimpi terliar dan ambisi anda. Jika anda ingin tahu mengapa anda ditempatkan di planet ini, anda harus memulainya dengan Allah, anda dilahirkan oleh tujuan-Nya dan untuk tujuan-Nya.

Pencarian tujuan hidup telah membingungkan banyak orang selama ribuan tahun. Ini karena kita pada umumnya memulai dengan titik awal yang keliru, yaitu diri kita sendiri. Kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berpusat pada diri sendiri seperti ingin menjadi apakah aku kelak ? Apa yang sebaiknya aku lakukan dengan hidupku ? Apakah sasaran-sasaranku, ambisi-ambisiku, impian-impianku untuk masa depanku ? Tetapi memusatkan perhatian pada diri sendiri tidak akan pernah menyingkapkan tujuan hidup kita. Alkitab berkata, " Bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia. " (Ayub 12:10 )

Bertentangan dengan apa yang banyak dikatakan oleh buku-buku, film-film dan seminar-seminar terkenal, anda tidak akan menemukan makna hidup anda sendiri. Anda mungkin telah mencobanya. Bukan anda yang menciptakan diri anda, jadi anda sama sekali tidak mengetahui, untuk apa anda diciptakan ! Jika saya memberi anda suatu barang yang belum pernah anda lihat, anda tidak akan mengetahui keinginannya, dan barang tersebut juga tidak akan bisa memberi tahu anda. Hanya pencipta atau buku panduan pemiliknya yang bisa mengungkapkan kegunaan barang itu.

Saya pernah tersesat di pegunungan.  Ketika saya berhenti untuk menanyakan arah pada suatu area perkemahan, saya diberi tahu, " Anda tidak akan bisa ke sana dari sini. Anda harus mulai dari sisi lain gunung tersebut !" Demikian juga, anda tidak bisa sampai pada tujuan hidup anda bila memulainya dengan berpusat pada diri sendiri. Anda harus mengawalinya dengan Allah, Pencipta anda. Anda ada hanya karena Allah menghendaki anda ada. Anda diciptakan oleh Allah dan untuk Allah dan sebelum anda memahaminya, kehidupan tidak akan pernah bisa dipahami hanya di dalam Allahlah kita menemukan asal-usul kita, identitas kita, makna kita, tujuan kita, pentingnya kita, dan masa depan kita. Setiap jalan membawa kepada jalan buntu.

Banyak orang berupaya memanfaatkan Allah untuk aktualisasi diri mereka sendiri, tetapi ini merupakan pemutarbalikkan alam dan pasti gagal. Anda dijadikan untuk Allah, bukan sebaliknya, dan hidup berarti membiarkan Allah memakai anda bagi tujuan-Nya, bukan anda yang menggunakan Allah bagi tujuan anda sendiri. Alkitab berkata, " Karena memikirkan hal-hal yang dari daging merupakan jalan buntu; perhatikan kepada Allah membawa kita ke tempat terbuka, yaitu kepada kehidupan yang bebas dan luas. " ( Roma 8:6 )

Saya telah membaca banyak buku yang menunjukkan cara-cara untuk menemukan tujuan hidup saya. Semua buku tersebut bisa dikelompokkan sebagai buku-buku untuk " menolong diri sendiri " karena buku-buku tersebut mendekati pokok bahasan dari sudut pandang yang berpusat pada diri sendiri. buku-buku untuk menolong diri sendiri, bahkan yang merupakan buku-buku Kristen, biasanya menawarkan beberapa langkah serupa yang bisa diramalkan untuk menemukan tujuan hidup anda :
  • Pertimbangkan impian-impian anda.
  • Perjelas nilai-nilai anda.
  • Tetapkan beberapa sasaran.
  • Temukan kelebihan-kelebihan anda.
  • Miliki tujuan yang tinggi.
  • Capailah !
  • Disiplinkan diri !
  • Yakinlah anda bisa meraih sasaran-sasaran anda.
  • Libatkan orang lain.
  • Jangan pernah menyerah

Tentu saja, rekomendasi tersebut sering kali menghasilkan sukses yang besar. Anda biasanya bisa berhasil dalam meraih suatu sasaran jika anda berkonsentrasi pada sasaran tersebut. Tetapi mencapai sukses dan memenuhi tujuan hidup anda sama sekali bukan hal yang sama ! Anda bisa mencapai semua sasaran-sasaran pribadi anda, menjadi luar biasa berhasil dalam standar dunia, dan tetap tidak mengetahui tujuan-tujuan yang untuknya Allah menciptakan anda. Alkitab mengatakan, " Menolong diri sendiri sama sekali tidak menolong, mengorbankan dirilah caranya, untuk menemukan diri anda, diri sejati anda. " ( Matius 16:25 ).

Lalu, bagaimana anda menemukan tujuan Allah menciptakan anda ? anda memiliki hanya dua pilihan. pilihan pertama anda adalah spekulasi. Inilah pilihan sebagian besar orang. mereka menebak, mereka menduga, mereka berteori. Ketika orang berkata, " saya selalu berfikir bahwa kehidupan adalah ..., " yang mereka maksudkan, " Inilah perkiraan terbaik yang bisa saya hasilkan. "

Selama ribuan tahun, filsuf-filsuf hebat telah berdiskusi dan berspekulasi tentang makna kehidupan. Filsafat adalah suatu ilmu penting dan memiliki manfaat, tetapi apabila filsafat menentukan tujuan hidup itu pun hanya menebak, bahkan filsuf-filsuf yang paling bijak pun sama.

Untunglah, ada suatu pilihan lain dari spekulasi mengenai makna dan tujuan hidup. Yaitu penyataan. Kita bisa melihat pada apa yang telah Allah nyatakan tentang kehidupan di dalam firman-Nya. Cara termudah untuk menemukan tujuan sebuah barang adalah bertanya kepada penciptanya. Hal yang sama berlaku untuk menemukan tujuan hidup anda : tanyakan pada Allah.



Allah tidak meninggalkan kita di dalam kegelapan untuk bertanya-tanya dan menebak. Dengan jelas Dia telah menyatakan lima tujuan-Nya untuk kehidupan kita di dalam Alkitab. Alkitab ialah buku panduan kita, yang menjelaskan mengapa kita hidup, bagaimana kehidupan berjalan, apa yang harus dihindari, dan apa yang bisa terjadi pada masa depan. Alkitab menjelaskan apa yang tidak mungkin diketahui oleh buku untuk menolong diri sendiri atau buku filsafat. Alkitab berkata, " Hikmat Allah ... tersembunyi jauh di dalam maksud-maksud-Nya ...Apa yang Allah tentukan sebagai cara untuk memunculkan hal terbaik yang Ia ciptakan di dalam kita bukanlah berita terbaru, melainkan lebih merupakan berita tertua. " ( 1 Korintus 2:7 ).

Allah bukan sekadar titik awal dalam kehidupan anda; Dialah sumber kehidupan. Untuk menemukan tujuan hidup anda, anda harus melihat firman Allah, bukan hikmat dunia. Anda harus membangun kehidupan anda di atas kebenaran-kebenaran kekal, bukan psikologi umum, motivasi sukses, atau kisah-kisah yang memberi inspirasi. Alkitab berkata, " Di dalam Kristuslah kita menemukan siapa kita dan untuk apa kita hidup. Jauh sebelum kita mendengar tentang Kristus untuk pertama kali, merancang kita bagi kehidupan yang penuh kemuliaan, bagian dari keseluruhan tujuan yang Dia kerjakan di dalam segala sesuatu dan semua orang. " ( Efesus 1:11 ). Ayat ini memberikan tiga wawasan ke dalam tujuan anda.
  1. Anda menemukan identitas dan tujuan anda melalui hubungan dengan Yesus Kristus. Jika anda tidak memiliki hubungan semacam itu, berarti anda tidak akan pernah mendapatkan tujuan hidup anda di dunia ini.
  2. Allah memikirkan Anda jauh sebelum anda pernah berpikir mengenai-Nya. Tujuan-Nya bagi kehidupan anda telah ada sebelum keberadaan anda. Dia merencanakannya sebelum anda ada, tanpa masukan anda ! anda boleh memilih karier anda, pasangan anda, hobi anda, dan banyak bagian lain dari kehidupan anda, tetapi anda tidak bisa memilih tujuan anda.
  3. Tujuan hidup anda sesuai dengan tujuan yang jauh lebih besar dan menyangkut alam semesta yang telah Allah rancang bagi kekekalan.

Rabu, 15 Agustus 2012

Bolehkah orang kristen berhutang ?

Karena berhutang bukan merupakan suatu dosa, maka berhutang boleh saja menurut alkitab. Firman Tuhan tidak melarang seseorang berhutang.

  • Tuhan sendiri menjanjikan akan memberkati umatnya sehingga umatnya dapat memberikan pinjaman kepada banyak bangsa, berarti ada pihak yang akan meminjam, itu artinya meminjam diperbolehkan.
" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaannya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

  • Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak menolak orang yang mau meminjam, artinya, meminjam itu tidak disalahkan oleh Yesus.
" Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu ". ( Mat 5:42 )

  • Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jika kita meminjamkan, yang berarti bahwa ada orang yang meminjam atau berhutang, maka kita tidak boleh mengharapkan sesuatu balasan.
" Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu ? Orang-orang berdosa pun  meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak ". ( Luk 6:34 )

  • Paulus mau menanggung hutang Onesimus
Kalau berhutang tidak diperbolehkan oleh firman Tuhan, tentu Rasul Paulus tidak mau menanggung hutang Onesimus.

" Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku - aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri : aku akan membayarnya - ...". ( Flm 1:18-19 )

Dianjurkankah  berhutang ?

Alkitab tidak pernah menganjurkan orang-orang percaya untuk berhutang.

  • Prinsip aliktab adalah anak-anak Tuhan justru dianjurkan untuk memberikan pinjaman dan bukan meminjam karena seharusnya anak-anak Tuhan diberkati hidupnya jika benar-benar mau melakukan akan perintah Tuhan 
" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

  • Tuhan tidak ingin anak-anaknya menjadi " budak " namun menjadi orang merdeka.
Karena orang yang berhutang pastilah akan terikat dengan si pemberi hutang. Kita juga perlu mengingat firman Tuhan di dalam kitab Amasl dan kata-kata Rasul Paulus.

" Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutang ". ( Ams 22:7 )

" Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun ". ( I Kor 6:12 )



Bagaimana keluar dari jerat hutang

  1. Bila memungkinkan, pindahlah kepada pemberi pinjaman dengan bunga yang lebih murah ( kalau bisa tanpa denda jika membayar terlambat ).
  2. Buat skedul pemasukan, pengeluaran dan pembayaran, dan laksanakan dengan ketat.
  3. Kalau ada harta yang bisa dijual, jual lah itu untuk membayar hutang.
  4. Bila perlu, cari kerja sambilan lainnya yang halal.
  5. Jangan malu, hiduplah dengan sederhana. Lebih baik utamakan pelunasan hutang !
  6. Tetap berdoa agar Tuhan membuka jalan.

Senin, 13 Agustus 2012

Hutang, siapakah engkau sebenarnya ? lawankah atau kawankah ?

Sampai saat ini masalah hutang masih merupakan masalah yang kontroversial di kalangan orang-orang kristen. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Ada yang bersyukur lepas dari hutang, namun ada juga yang bersyukur ketika mendapatkan hutang. Ada yang minta didoakan agar lepas dari jeratan hutang, ada yang minta didoakan agar dapat tambahan hutang. Ada yang mengatakan hutang adalah dosa, ada juga yang mengatakan hutang adalah berkat. Berbagai pendapat yang berbeda dari hamba-hamba Tuhan membuat jemaat menjadi bertambah bingung. Hutang, siapakah engkau sebenarnya ? lawankah atau kawankah ?

Dosakah berhutang ?

Tentu saja tidak ! Namun memang ada orang-orang yang menganggap bahwa berhutang artinya mengandalkan atau berharap kepada manusia, tidak mengandalkan Tuhan, itu artinya dosa. Lalu, mengapa kita berani mengatakan bahwa berhutang bukanlah hal yang berdosa ?

  • Jika berhutang adalah perbuatan yang berdosa, maka hukum Musa dan Tuhan Yesus tidak akan menganjurkan umat Tuhan untuk memberikan pinjaman karena hal itu hanya akan membuat orang lain jatuh ke dalam dosa.
Di sini kita justru melihat bahwa orang-orang yang memberi pinjaman adalah orang-orang yang diberkati hidupnya oleh Tuhan, orang yang berkenan kepadaNya dan dikatakan sebagai orang mujur, bukan orang yang membuat orang lain jatuh dalam dosa.

" Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati atau pun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan ". ( Ul 15:7-8 )

" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaanNya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

" TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya ; apabila ia jatuh, tidak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti ; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat ". ( Mzm 37:23-26 )

" Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya ". ( Mzm 112:5 )

" Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu ". ( Mat 5:42 )

  • Di dalam perumpamaan tentang pengampunan, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hutang adalah dosa yang harus dihukum namun hutang adalah kewajiban yang harus dibayar.
" Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk membayar hutangnya ". ( Mat 18:21-35 )

  • Di dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur, nampaknya masalah berhutang merupakan suatu hal yang lazim terjadi pada zaman itu. Dalam perumpamaan itu hutangnya berbentuk natura. Tidak ada kesan bahwa Tuhan Yesus menyatakan hutang tersebut adalah suatu perbuatan dosa.
" Lalu ia memangil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama : Berapakah hutangmu kepada tuanku ? Jawab orang itu : Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu : Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga : Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua : Dan berapakah hutangmu ? Jawab orang itu : Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu : Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain : Delapan puluh pikul ". ( Bacalah keseluruhan Luk 16:1-9 )



Jumat, 10 Agustus 2012

Bagaimana cara kerja yang baik ?

Banyak firman Tuhan yang memberikan arahan bagaimana seharusnya kita bekerja. Melalui dua ayat di bawah ini, kita tahu bahwa kita harus bekerja dengan tangan kita, kita harus bekerja dengan pikiran kita dan kita harus bekerja dengan hati kita.

" Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya ". ( Kol 3:23-24 )

" Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati ". ( Mat 10:16 )

1. Bekerjalah dengan tangan

Perbuatlah, artinya kita harus melakukan sesuatu ! Tetapi, ada orang yang mengharapkan Tuhan memberkatinya tanpa ia melakukan sesuatu apa pun juga. Ia mengharapkan berkat Tuhan itu datang dengan cara yang ajaib, turun dari langit, atau ada orang yang tidak dikenalnya datang membawakan berkat. Hal tersebut memang bisa terjadi, tetapi di dalam keadaan yang normal, Tuhan memberkati kita melalui apa yang dikerjakan oleh tangan kita. ( Ul 28:12 ; Mzm 1:3 ; Pkh 9:10 ).

Proaktiflah !

Proaktif artinya tanggap dan mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa harus disuruh atau diperintahkan terlebih dahulu. Proaktif artinya bertindak ( menjemput bola ) dan bukan menunggu bola datang. Ada banyak orang yang tidak berhasil di dalam hidupnya atau pekerjaannya karena mereka tidak proaktif. Kebanyakan mereka berpikir, kenapa aku yang harus melakukannya, toh banyak orang lain yang akan melakukannya. Sebagian orang lainnya, menjadi tidak proaktif karena asyik bermain dalam permainan yang namanya " rapat ". Banyak gereja Tuhan senang dengan permainan ini. Rapat memang perlu, tetapi lebih perlu lagi bertindak proaktif ! Banyak kali Yesus berkata, " pergilah ! " artinya, berlakulah proaktif ! bertindaklah ! jangan diam saja.

2. bekerjalah dengan pikiran

  • Berpikirlah analitis

Berpikirlah analitis, gunakan logika, carilah jawaban atas setiap masalah yang dihadapi. Gunakanlah fakta, informasi dan petunjuk. Jika bekerja, jangan bekerja seperti robot. Pikirkan bagaimana cara kerja yang baik, lebih cepat, lebih mudah, lebih efisien, dan lebih menyenangkan. Oleh karena itu, sebelum mulai bekerja, pikirkanlah bagaimana hal itu dapat dikerjakan dengan cara yang terbaik.

  • Berpikirlah kreatif
Berpikir kreatif artinya penuh ide-ide dan imajinasi yang baru, terus berkembang, tidak tinggal diam dalam zona kenyamanan, tidak berhenti pada keadaan yang sekarang ini. Sementara bekerja, pikirkan juga bagaimana cara untuk membuat pekerjaan kita semakin lebih baik lagi. Setelah bekerja, jangan berhenti berpikir, pikirkanlah cara lain yang lebih baik lagi untuk melakukan pekerjaan kita.

  • Berpikirlah runtut maju
Jangan pernah berhenti untuk berpikir, dan berpikirlah dengan cerdik seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Berpikir cerdik bukan berpikir licik. Berpikir cerdik adalah berpikir dengan perencanaan yang baik dengan mempertimbangkan segala kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di waktu mendatang. Salah satu cara terbaik untuk membuat pekerjaan dapat selesai dengan baik adalah berpikirlah secara sekuential atau berurutan, yaitu berurutan maju atau runtut maju. Jika ada suatu tugas, pikirkanlah apa yang harus dikerjakan, langkah demi langkah mulai dari awal proses hingga selesainya tugas itu. ( Mat 10:16 ; Ams 24:6 ).

3. Bekerjalah dengan hati

Bekerja dengan tangan sudah cukup baik. Bekerja dengan tangan dan pikiran adalah baik. Dan jika kita bekerja dengan tangan, pikiran dan hati itu akan menghasilkan yang terbaik. Kebanyakan orang tidak lagi bekerja dengan hati, ia tidak menyukai pekerjaannya. Ia cepat merasa bosan dan jenuh, kerjanya jadi lambat dan tidak penuh gairah. Jadi bekerjalah dengan hati.

  • Bekerja dengan hati yang antusias

Bekerjalah dengan hati yang penuh gairah dan bersemangat. Taruhlah minat yang besar terhadap pekerjaan anda. Hati yang bersemangat akan sangat membantu di dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan lebih cepat, lebih baik dan lebih berkualitas. Banyak pekerjaan dan pelayanan yang kandas di tengah jalan karena tidak dimulai dengan hati yang antusias, serta tidak dikerjakan dengan hati yang bersemangat. Bila kita gagal, jangan terlalu cepat untuk mengatakan ini adalah kehendak Tuhan, atau malah menyalahkan Tuhan, tetapi periksalah terlebih dahulu diri kita sendiri, sudahkah kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh ? ( Ams 18:14 ; Yes 40:28-31 ).

  • Bekerjalah dengan hati yang tulus

Bekerjalah dengan hati yang tulus, tanpa ada motivasi yang terselubung di baliknya. Kerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dengan hati yang murni. Tuhan Yesus mengatakan hendaklah kamu tulus seperti merpati ( Mat 10:16 ). Paulus berkali-kali mengingatkan kepada para hamba atau pun karyawan, agar bekerja dengan hati yang tulus. Jangan hanya berbasa-basi, berpura-pura dan jangan juga curang. ( Ef 6:5-8 ; Kol 3:22 ; Tit 2:9-10 ; Mzm 37:37-38 ).

  • Bekerja dengan hati yang penuh kasih

Pekerjaan yang kita lakukan haruslah didasari oleh kasih ( kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama ). Oleh karena itu, pekerjaan kita haruslah pekerjaan yang benar dan berkenan di mata manusia maupun Tuhan. ( I Kor 16:14 ; Ibr 10:24 ; Tit 3:14 ).

  • Bekerjalah dengan hati yang taat

Lakukan pekerjaan kita dengan hati yang taat. Jangan berlaku rajin hanya ketika ada pimpinan, begitu pimpinan tidak ada, semuanya jadi malas-malasan, atau mengerjakan pekerjaan lain yang bukan urusan kantor. Orang yang mempunyai hati yang taat tidak memerlukan pengawasan. ( Ams 6:6-8 ). Pekerjaan harus dilakukan dengan hati yang taat seperti kita taat kepada Tuhan. Dan ketaatan ini tidak hanya dilakukan di depan pimpinan saja, tetapi di setiap waktu.

" Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ". ( Kol 3:22-23 ).

  • Bekerjalah dengan hati yang bertanggung jawab

Semua majikan pasti akan mencari orang-orang yang bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam " Perumpamaan Tentang Talenta ". ( Mat 25:21 ).

Bekerjalah dengan penuh tanggung jawab ! Selesaikan pekerjaanmu dengan baik, dan jangan tertunda-tunda, dikurangi, apalagi dilalaikan. Dan lihatlah pekerjaan yang lebih besar lagi sudah menunggu anda. Dengan demikian, anda akan terus meningkat, naik, menjadi kepala dan bukan ekor karena hanya orang yang bisa bertanggung jawab yang baik naik sampai ke posisi puncak.

" TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia ". ( Ul 28:13 )



Renungkanlah, kemudian rajinlah bekerja agar apa yang anda cita-citakan menjadi kenyataan karena Tuhan memberkati tangan yang mau berusaha.

Selasa, 07 Agustus 2012

Pandangan Alkitab dan Sikap Kita Terhadap Uang

1. Uang hanya sebagai alat untuk memenuhi berbagai kebutuhan

Pkh 7:12 berkata, " Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang ..." Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kita mambutuhkan uang. Uang menjadi sarana yang sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap kemiskinan dan berbagai masalah yang diakibatkan oleh kemiskinan. Dengan uang kita dapat menyatakan kasih dan kepedulian kita terhadap sesama ( I Tim 5:8 ; Kis 20:35 ).

Meskipun uang mempunyai peranan penting untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun uang bukanlah segala-galanya, banyak segi di dalam kehidupan manusia yang tidak dapat diukur dan digantikan oleh uang.

2. Uang tidaklah jahat

Rasul Paulus menjelaskan bahwa uang itu sendiri tidaklah jahat, cinta uanglah yang jahat.

" Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka ". ( I Tim 6:10 ).

Perbedaan dari keinginan yang normal akan uang dan cinta akan uang dapat dijelaskan dengan perbedaan nyala api kecil dengan nyala api yang sangat besar. Nyala api kecil / normal dapat dipakai untuk memasak makanan, tetapi nyala api besar dapat melalap habis sebuah hutan.

Keinginan yang normal akan uang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan memotivasi kita untuk bekerja dan mendapatkan uang. Sedangkan cinta akan uang akan mendorong seseorang untuk melakukan apa saja demi uang. Jangan biarkan diri kita diperhamba oleh uang, tetapi biarlah uang melayani kita dengan cara memandangnya hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.

3. Uang memiliki keterbatasan

Meskipun Salomo memiliki kekayaan yang sangat besar, namun ia mengakui bahwa kelimpahan materi tidak menjamin kebahagiaan seseorang.

Ia menuliskan demikian, " Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia ". ( Pkh 5:9 ).

Melalui uang kita dapat memiliki dan melakukan banyak hal yang kita inginkan, tetapi jangan lupa bahwa banyak pula yang tidak dapat dilakukan oleh uang.

Kekayaan atau uang yang semakin bertambah akan memperbudak orang yang cinta akan uang. Inilah yang Yesus maksudkan dengan " tipu daya kekayaan " di dalam Mat 13:22. Mereka tertipu karena ternyata di dalam kekayaan / uang yang mereka kejar mati-matian, ternyata tidak mereka temukan kepuasan dan kebahagiaan. Keterbatasan uang memang tidak dapat membeli kepuasan dan kebahagiaan, apalagi keselamatan.

4. Tuhan tidak melarang orang menjadi kaya

Pada zaman Alkitab, sudah ada orang kaya maupun orang miskin. Paulus tidak memerintahkan kepada Timotius untuk menyuruh orang kaya meninggalkan kekayaan mereka dan menjadi miskin. Yang ia lakukan adalah menyuruh Timotius menasehati orang-orang kaya untuk membangun sikap yang benar terhadap kekayaan.

" Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya ". ( I Tim 6:17-19 ).

Membangun Sikap Yang Benar Terhadap Uang

1. Merasa puas dengan apa yang kita miliki

Ini bukan berarti kita harus berhenti berusaha karena menganggap bahwa kita tidak bisa lagi mendapatkan berkat yang lebih. Merasa puas di sini adalah dapat menikmati dengan ucapan syukur apa yang Tuhan sudah percayakan dan menganggap semua itu sebagai berkat dari Tuhan ( Ibr 13:5 ; I Tim 6:8 ; Flp 4:11 ).

2. Akui bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada uang

Uang bukan segalanya, karena banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, seperti : hikmat ( Ams 16:16 ), hidup benar ( Ams 28:6 ; 16:8 ; Mzm 37:16 ), tidur nyenyak ( Pkh 5:11 ), kesehatan ( Luk 8:43 ), ketenangan dan damai sejahtera ( Pkh 4:6 ; Ams 15:16 , 17:1 ).

3. Jika Tuhan memberkati kita secara materi, jangan lupakan dia

Banyak orang yang setelah diberkati secara materi, kemudian melupakan Sang Pemberi berkat dan lebih tertarik pada pemberianNya. Ingat bahwa berkat kekayaan asalnya dari Tuhan saja ( Ul 6:10-12 ; 8:17-18 ; Ams 30:7-9 ).

4. Meskipun semua kekayaan anda hilang, itu tidak akan mempengaruhi hubungan anda dengan Tuhan.

Apa yang kita miliki merupakan kepercayaan dari Tuhan selama kita di dunia. Kalaupun kekayaan Kita hilang, jangan salahkan Tuhan dan kecewa terhadapNya. Hubungan denganNya jauh lebih penting dari pada materi karena materi tidak akan kita bawa pergi ketika meninggal ( Ayb 1:20-22 ).

5. Jangan iri terhadap kekayaan orang lain

Nikmatilah berkat masing-masing yang Tuhan sudah percayakan dan jangan mengukur segala sesuatunya dengan uang atau kekayaan. Ingat, hubungan dengan Tuhan jauh lebih penting ( Mzm 49:17-18 ; Kel 20:17 ).

6. Sadari budaya materialisme dalam masyarakat kita

Materialisme adalah budaya yang mendasarkan segala sesuatunya pada materi atau benda. Melalui berbagai media atau pun iklan ditawarkan gaya hidup materialistis dan ini akan membawa pengaruh negatif bagi kita. Lindungi diri dari pengaruh ini, pastikan bahwa perkara-perkara rohani lebih penting bagi anda.



Bekerjalah semaksimal mungkin, libatkan Tuhan sebagai sumber hikmat dan kekuatan dan nikmatilah hasil jerih lelah anda juga dengan bimbingan Tuhan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pandangan Alkitab dan Sikap KIta Terhadap Kerja

1. Bekerja adalah perintah Tuhan

Ada orang yang berkata, " Seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh kedalam dosa, maka kita tidak akan capek untuk bekerja seperti sekarang ini ". Ini merupakan pemahaman yang salah dan merupakan keinginan dari orang-orang yang malas bekerja. Sebenarnya perintah untuk bekerja sudah diberikan Tuhan sebelum manusia itu jatuh ke dalam dosa ( Kej 1:28 ; 2:15 ,19 ), kejatuhan manusia ke dalam dosa hanya menambah usaha di dalam bekerja menjadi lebih berat ( Kej 3:17-19 ).

Today's English Version ( TEV ) menuliskan Kej 2:15 demikian, " Then the LORD God placed the man in the Garden of Eden to cultivate it and guard it, " artinya : " Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan / menemani dan menjaga / memeliharanya ".

Untuk saat itu, pekerjaan yang dilakukan oleh Adam dan Hawa adalah mengurus taman Eden beserta isinya. Tetapi untuk sekarang ini, ayat ini harus dipahami secara lebih luas di mana kita harus mengerjakan dengan penuh tanggung jawab pekerjaan atau pun tugas kita sehari-hari, demi kelangsungan dan keseimbangan hidup.

2. Siapa yang tidak mau bekerja jangan lah ia makan

Kepada jemaat di Tesalonika Paulus menasehatkan , " ... jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan ". Meskipun sebagai hamba Tuhan, Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya berhak menerima sokongan dari jemaat yang mereka layani, tetapi ia memberikan teladan dengan bekerja sendiri sebagai tukang tenda, untuk memenuhi kebutuhannya dan juga kebutuhan teman-temannya ( Kis 18:3 ). Hal ini ia lakukan agar tidak membebani siapa pun, selain itu ia juga ingin mengajarkan kepada jemaat bahwa mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan tidak hanya mengharapkan berkat melalui jerih payah orang lain yang artinya menjadi beban bagi orang lain.

Di dalam keluarga, kita dapat menanamkan prinsip ini dengan memberikan tugas atau tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh setiap anggota keluarga. Dengan demikian, mereka akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, mereka harus bekerja.

3. Orang yang rajin bekerja akan diberkati

Ams 10:4 berkata, " Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya ". Benar bahwa Tuhan empunya segala-galanya dan kita bisa meminta di dalam doa agar Ia memberkati kita. Tetapi Alkitab tidak pernah mengajar kita untuk menjadi orang-orang yang malas. Bahkan, Alkitab menentang sifat malas ( Ams 6:6-11 ). yang Alkitab ajarkan adalah " orang yang rajin akan diberkati ". Di masyarakat kita tidak jarang terjadi kecemburuan sosial terhadap orang-orang kaya. Kecemburuan ini berujung pada pengrusakan, perampokan bahkan penganiayaan terhadap orang kaya. Pernahkah kita mencari tahu bagaimana mereka memperoleh kekayaan itu ? Di dalam satu hari berapa jam mereka korbankan untuk bekerja ? Mungkin ketika kita masih tidur lelap, mereka sudah mulai bekerja. Yang seharusnya kita lakukan adalah bekerja lebih rajin, maka Tuhan akan memberkati kita.

Beberapa orang salah di dalam memahami arti " hidup dengan iman ". Mereka berpikir bahwa mereka tidak perlu lagi bekerja dan cukup berdoa saja maka Tuhan akan menurunkan berkatNya. Jika anda mampu untuk bekerja, bekerjalah dan percayalah bahwa Tuhan akan memberkati apa yang anda kerjakan.

Ams 12:24 berkata, " Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ".

4. Buanglah mental pengemis

Yang dimaksud dengan mental pengemis adalah mental yang suka meminta-minta. Orang yang memiliki mental pengemis hanya bisa meminta serta mengharapkan belas kasihan orang lain, tetapi ia sendiri tidak mau bekerja. Akar dari mental pengemis ini tidak lain adalah kemalasan. Ada orang yang ingin mendapatkan uang atau barang yang ia inginkan, tetapi malas bekerja, malas berusaha. Ia memilih cara yang lebih gampang, yaitu meminta-minta. Hamba Tuhan pun tidak sedikit yang memiliki mental pengemis dengan meminta ke sana-sini. Janganlah kita merusak citra diri dan pelayanan kita dengan membiasakan diri menjadi peminta-minta. Firman Tuhan mengingatkan agar kita bekerja, sehingga dengan demikian memakan makanan kita sendiri ( II Tes 3:12 ).

Lihatlah bagaimana Paulus memberikan teladan hidup yang baik sebagai hamba Tuhan, dengan bekerja sendiri memenuhi kebutuhannya dan rekan-rekan sepelayanannya. Bahkan, ia bekerja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhannya tetapi juga dengan maksud agar bisa membantu orang-orang yang lemah ( Kis 20:35 ). Sedapat mungkin bekerja dan berusahalah, jangan hanya mengharapkan belas kasihan orang lain. Paulus mengajarkan bahwa kita bekerja bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, tetapi agar kita juga bisa memberi kepada orang lain.

" ... tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan ". ( Ef 4:28 ).

5. Bekerjalah seperti untuk Tuhan

Standar moral tertinggi di dalam bekerja adalah bekerja seperti untuk Tuhan. Orang yang menyadari bahwa melalui pekerjaannya setiap hari ia sedang bekerja untuk Tuhan dan melayaniNya, maka ia akan mengerjakan pekerjaannya itu dengan segenap hati. Jika kita bekerja sebagai karyawan, dalam sehari waktu yang kita gunakan untuk bekerja ada sekitar 8 jam. Ini artinya, dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00, kita menghabiskan sekitar 67 % waktu kita untuk bekerja. Dalam waktu kerja yang cukup panjang itu, bagaimanakah sikap kita di dalam bekerja ? Adakah kita menganggap seluruh aspek kehidupan kita sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, sehingga dengan begitu kita akan bekerja dengan segenap hati.

Berikut ini adalah beberapa sikap yang harus kita kembangkan sebagai pekerja-pekerja yang taat kepada Tuhan dan yang menyadari bahwa kita bekerja bagiNya.



A. Bekerja dengan jujur

Bekerjalah sesuai aturan yang ada, jangan curang dengan mencuri jam kerja untuk mengerjakan pekerjaan pribadi, jangan malas-malasan atau berpura-pura sakit, jangan " makan tulang " dengan menyuruh orang lain mengerjakan pekerjaan anda, sementara anda bersantai-santai. Majikan ataupun pimpinan mungkin tidak tahu ketidakjujuran ini, tetapi ingat bahwa Tuhan selalu mengawasi kita dan Ia akan memperhitungkan semuanya.

Ef 6:5-7 berkata, " Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia ".

B. Bekerja dengan penuh tanggung jawab

Bekerja dengan penuh tanggung jawab adalah mengerjakan dengan sebaik-baiknya tugas dan tanggung jawab kita. Tidak bekerja asal bekerja atau supaya kelihatan bekerja. Sara Bradley mengatakan bahwa cara dan sikap seseorang terhadap pekerjaan akan mencerminkan nilai diri orang tersebut dan tanggung jawabnya terhadap kehidupannya. Apakah anda seorang karyawan yang bekerja untuk orang lain atau anda bekerja sendiri, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya hingga tuntas dan mendatangkan hasil memuaskan. Janganlah pekerjaan anda akhirnya menyusahkan orang lain karena anda tidak bertanggung jawab di dalam mengerjakannya.

C. Bekerja tanpa bersungut-sungut

Orang yang mengerjakan sesuatu dengan bersungut-sungut dan mengomel, menandakan bahwa ia melakukan itu dengan terpaksa. Dan ketika seseorang mengerjakan sesuatu dengan terpaksa dan tidak dengan hati yang tulus, maka dapat dipastikan bahwa hasil kerjanya tidak akan memuaskan. Ingat bahwa kerja adalah ibadah.

Itu sebabnya, " Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan ". ( Flp 2:14 ). 

Tuhan sangat peduli terhadap orang-orang yang setia dan terhadap mereka yang taat. Ketika kita bekerja dengan jujur, penuh tanggung jawab dan tanpa bersungut-sungut, Tuhan memperhitungkan semua itu dan akan memberikan upah yang pantas dan mungkin tidak pernah terpikirkan oleh akal kita. Bahkan Tuhan tidak pernah mau berhutang kepada kita. Jadi, apa pun yang kita kerjakan, kerjakanlah dengan segenap hati.

Kamis, 02 Agustus 2012

Apa yang harus saya lakukan

Sebaiknya sebelum anda membaca konten ini lebih lanjut, alangkah baiknya anda membaca terlebih dahulu konten :

Proyek filipus I
Proyek filipus II
Proyek filipus III
Proyek filipus IV


Setelah mempelajari 1-4, maka kita mengetahui bahwa :

  • Manusia sangat berharga di mata TUHAN.
  • DOSA merusak hubungan antara Allah dan manusia.
  • Semua manusia itu berdosa dan tidak dapat keluar dari maut.
  • Hanya TUHAN yang dapat membebaskan manusia dari dosa.
  • Kematian dan kebangkitan Yesus menjadi jalan keluar dan pengharapan.




Akhirnya, apa yang harus kita lakukan agar dosa kita diampuni dan kita beroleh hidup yang kekal ? ada 3 hal yang harus anda lakukan :

1. BERTOBAT

Artinya :

  • Mengaku bahwa anda berdosa.
  • Sungguh-sungguh menyesali apa yang anda perbuat.
  • Berbalik arah dan menjauhi dosa.

2. PERCAYA KEPADA YESUS


3. TERIMALAH YESUS DALAM HIDUPMU

Berdoalah melalui doa berikut :

" Tuhan Yesus, saya mengakui bahwa saya berdosa dan saya memerlukan pengampunan. Saya sungguh-sungguh ingin meninggalkan dosa-dosa saya. Saya percaya bahwa engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau telah menebus dosaku dan menyucikan hidupku. Saya menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu mulai dari saat ini. Terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan saya. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin!"

Apakah saya sudah diselamatkan ?

Alkitab menulis : "Barang siapa memiliki anak ( Yesus ), ia memiliki hidup ; barang siapa tidak memiliki anak ( Yesus ), ia tidak memiliki hidup." ( 1 Yohanes 5:12 )

Lalu apa ?

Orang yang baru bertobat harus memiliki kerinduan untuk bertumbuh dengan melakukan tiga hal berikut :

1. Membaca Alkitab

Firman Allah adalah kekuatan dan santapan bagi jiwa kita.

2. Berdoa

Curahkanlah seluruh isi hati dan syukur kita melalui doa.

3. Bersekutu dengan sesama saudara seiman

Dengan bersekutu kita dapat saling menguatkan sebagai anggota Keluarga Allah.