Rabu, 15 Agustus 2012

Bolehkah orang kristen berhutang ?

Karena berhutang bukan merupakan suatu dosa, maka berhutang boleh saja menurut alkitab. Firman Tuhan tidak melarang seseorang berhutang.

  • Tuhan sendiri menjanjikan akan memberkati umatnya sehingga umatnya dapat memberikan pinjaman kepada banyak bangsa, berarti ada pihak yang akan meminjam, itu artinya meminjam diperbolehkan.
" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaannya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

  • Tuhan Yesus mengajarkan agar kita tidak menolak orang yang mau meminjam, artinya, meminjam itu tidak disalahkan oleh Yesus.
" Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu ". ( Mat 5:42 )

  • Tuhan Yesus mengajarkan bahwa jika kita meminjamkan, yang berarti bahwa ada orang yang meminjam atau berhutang, maka kita tidak boleh mengharapkan sesuatu balasan.
" Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu ? Orang-orang berdosa pun  meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak ". ( Luk 6:34 )

  • Paulus mau menanggung hutang Onesimus
Kalau berhutang tidak diperbolehkan oleh firman Tuhan, tentu Rasul Paulus tidak mau menanggung hutang Onesimus.

" Dan kalau dia sudah merugikan engkau ataupun berhutang padamu, tanggungkanlah semuanya itu kepadaku - aku, Paulus, menjaminnya dengan tulisan tanganku sendiri : aku akan membayarnya - ...". ( Flm 1:18-19 )

Dianjurkankah  berhutang ?

Alkitab tidak pernah menganjurkan orang-orang percaya untuk berhutang.

  • Prinsip aliktab adalah anak-anak Tuhan justru dianjurkan untuk memberikan pinjaman dan bukan meminjam karena seharusnya anak-anak Tuhan diberkati hidupnya jika benar-benar mau melakukan akan perintah Tuhan 
" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

  • Tuhan tidak ingin anak-anaknya menjadi " budak " namun menjadi orang merdeka.
Karena orang yang berhutang pastilah akan terikat dengan si pemberi hutang. Kita juga perlu mengingat firman Tuhan di dalam kitab Amasl dan kata-kata Rasul Paulus.

" Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutang ". ( Ams 22:7 )

" Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun ". ( I Kor 6:12 )



Bagaimana keluar dari jerat hutang

  1. Bila memungkinkan, pindahlah kepada pemberi pinjaman dengan bunga yang lebih murah ( kalau bisa tanpa denda jika membayar terlambat ).
  2. Buat skedul pemasukan, pengeluaran dan pembayaran, dan laksanakan dengan ketat.
  3. Kalau ada harta yang bisa dijual, jual lah itu untuk membayar hutang.
  4. Bila perlu, cari kerja sambilan lainnya yang halal.
  5. Jangan malu, hiduplah dengan sederhana. Lebih baik utamakan pelunasan hutang !
  6. Tetap berdoa agar Tuhan membuka jalan.

Senin, 13 Agustus 2012

Hutang, siapakah engkau sebenarnya ? lawankah atau kawankah ?

Sampai saat ini masalah hutang masih merupakan masalah yang kontroversial di kalangan orang-orang kristen. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Ada yang bersyukur lepas dari hutang, namun ada juga yang bersyukur ketika mendapatkan hutang. Ada yang minta didoakan agar lepas dari jeratan hutang, ada yang minta didoakan agar dapat tambahan hutang. Ada yang mengatakan hutang adalah dosa, ada juga yang mengatakan hutang adalah berkat. Berbagai pendapat yang berbeda dari hamba-hamba Tuhan membuat jemaat menjadi bertambah bingung. Hutang, siapakah engkau sebenarnya ? lawankah atau kawankah ?

Dosakah berhutang ?

Tentu saja tidak ! Namun memang ada orang-orang yang menganggap bahwa berhutang artinya mengandalkan atau berharap kepada manusia, tidak mengandalkan Tuhan, itu artinya dosa. Lalu, mengapa kita berani mengatakan bahwa berhutang bukanlah hal yang berdosa ?

  • Jika berhutang adalah perbuatan yang berdosa, maka hukum Musa dan Tuhan Yesus tidak akan menganjurkan umat Tuhan untuk memberikan pinjaman karena hal itu hanya akan membuat orang lain jatuh ke dalam dosa.
Di sini kita justru melihat bahwa orang-orang yang memberi pinjaman adalah orang-orang yang diberkati hidupnya oleh Tuhan, orang yang berkenan kepadaNya dan dikatakan sebagai orang mujur, bukan orang yang membuat orang lain jatuh dalam dosa.

" Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati atau pun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan ". ( Ul 15:7-8 )

" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaanNya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

" TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya ; apabila ia jatuh, tidak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti ; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat ". ( Mzm 37:23-26 )

" Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya ". ( Mzm 112:5 )

" Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu ". ( Mat 5:42 )

  • Di dalam perumpamaan tentang pengampunan, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hutang adalah dosa yang harus dihukum namun hutang adalah kewajiban yang harus dibayar.
" Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk membayar hutangnya ". ( Mat 18:21-35 )

  • Di dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur, nampaknya masalah berhutang merupakan suatu hal yang lazim terjadi pada zaman itu. Dalam perumpamaan itu hutangnya berbentuk natura. Tidak ada kesan bahwa Tuhan Yesus menyatakan hutang tersebut adalah suatu perbuatan dosa.
" Lalu ia memangil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama : Berapakah hutangmu kepada tuanku ? Jawab orang itu : Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu : Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga : Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua : Dan berapakah hutangmu ? Jawab orang itu : Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu : Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain : Delapan puluh pikul ". ( Bacalah keseluruhan Luk 16:1-9 )



Jumat, 10 Agustus 2012

Bagaimana cara kerja yang baik ?

Banyak firman Tuhan yang memberikan arahan bagaimana seharusnya kita bekerja. Melalui dua ayat di bawah ini, kita tahu bahwa kita harus bekerja dengan tangan kita, kita harus bekerja dengan pikiran kita dan kita harus bekerja dengan hati kita.

" Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hambaNya ". ( Kol 3:23-24 )

" Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati ". ( Mat 10:16 )

1. Bekerjalah dengan tangan

Perbuatlah, artinya kita harus melakukan sesuatu ! Tetapi, ada orang yang mengharapkan Tuhan memberkatinya tanpa ia melakukan sesuatu apa pun juga. Ia mengharapkan berkat Tuhan itu datang dengan cara yang ajaib, turun dari langit, atau ada orang yang tidak dikenalnya datang membawakan berkat. Hal tersebut memang bisa terjadi, tetapi di dalam keadaan yang normal, Tuhan memberkati kita melalui apa yang dikerjakan oleh tangan kita. ( Ul 28:12 ; Mzm 1:3 ; Pkh 9:10 ).

Proaktiflah !

Proaktif artinya tanggap dan mempunyai inisiatif untuk melakukan sesuatu tanpa harus disuruh atau diperintahkan terlebih dahulu. Proaktif artinya bertindak ( menjemput bola ) dan bukan menunggu bola datang. Ada banyak orang yang tidak berhasil di dalam hidupnya atau pekerjaannya karena mereka tidak proaktif. Kebanyakan mereka berpikir, kenapa aku yang harus melakukannya, toh banyak orang lain yang akan melakukannya. Sebagian orang lainnya, menjadi tidak proaktif karena asyik bermain dalam permainan yang namanya " rapat ". Banyak gereja Tuhan senang dengan permainan ini. Rapat memang perlu, tetapi lebih perlu lagi bertindak proaktif ! Banyak kali Yesus berkata, " pergilah ! " artinya, berlakulah proaktif ! bertindaklah ! jangan diam saja.

2. bekerjalah dengan pikiran

  • Berpikirlah analitis

Berpikirlah analitis, gunakan logika, carilah jawaban atas setiap masalah yang dihadapi. Gunakanlah fakta, informasi dan petunjuk. Jika bekerja, jangan bekerja seperti robot. Pikirkan bagaimana cara kerja yang baik, lebih cepat, lebih mudah, lebih efisien, dan lebih menyenangkan. Oleh karena itu, sebelum mulai bekerja, pikirkanlah bagaimana hal itu dapat dikerjakan dengan cara yang terbaik.

  • Berpikirlah kreatif
Berpikir kreatif artinya penuh ide-ide dan imajinasi yang baru, terus berkembang, tidak tinggal diam dalam zona kenyamanan, tidak berhenti pada keadaan yang sekarang ini. Sementara bekerja, pikirkan juga bagaimana cara untuk membuat pekerjaan kita semakin lebih baik lagi. Setelah bekerja, jangan berhenti berpikir, pikirkanlah cara lain yang lebih baik lagi untuk melakukan pekerjaan kita.

  • Berpikirlah runtut maju
Jangan pernah berhenti untuk berpikir, dan berpikirlah dengan cerdik seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Berpikir cerdik bukan berpikir licik. Berpikir cerdik adalah berpikir dengan perencanaan yang baik dengan mempertimbangkan segala kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di waktu mendatang. Salah satu cara terbaik untuk membuat pekerjaan dapat selesai dengan baik adalah berpikirlah secara sekuential atau berurutan, yaitu berurutan maju atau runtut maju. Jika ada suatu tugas, pikirkanlah apa yang harus dikerjakan, langkah demi langkah mulai dari awal proses hingga selesainya tugas itu. ( Mat 10:16 ; Ams 24:6 ).

3. Bekerjalah dengan hati

Bekerja dengan tangan sudah cukup baik. Bekerja dengan tangan dan pikiran adalah baik. Dan jika kita bekerja dengan tangan, pikiran dan hati itu akan menghasilkan yang terbaik. Kebanyakan orang tidak lagi bekerja dengan hati, ia tidak menyukai pekerjaannya. Ia cepat merasa bosan dan jenuh, kerjanya jadi lambat dan tidak penuh gairah. Jadi bekerjalah dengan hati.

  • Bekerja dengan hati yang antusias

Bekerjalah dengan hati yang penuh gairah dan bersemangat. Taruhlah minat yang besar terhadap pekerjaan anda. Hati yang bersemangat akan sangat membantu di dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan lebih cepat, lebih baik dan lebih berkualitas. Banyak pekerjaan dan pelayanan yang kandas di tengah jalan karena tidak dimulai dengan hati yang antusias, serta tidak dikerjakan dengan hati yang bersemangat. Bila kita gagal, jangan terlalu cepat untuk mengatakan ini adalah kehendak Tuhan, atau malah menyalahkan Tuhan, tetapi periksalah terlebih dahulu diri kita sendiri, sudahkah kita mengerjakannya dengan sungguh-sungguh ? ( Ams 18:14 ; Yes 40:28-31 ).

  • Bekerjalah dengan hati yang tulus

Bekerjalah dengan hati yang tulus, tanpa ada motivasi yang terselubung di baliknya. Kerjakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita dengan hati yang murni. Tuhan Yesus mengatakan hendaklah kamu tulus seperti merpati ( Mat 10:16 ). Paulus berkali-kali mengingatkan kepada para hamba atau pun karyawan, agar bekerja dengan hati yang tulus. Jangan hanya berbasa-basi, berpura-pura dan jangan juga curang. ( Ef 6:5-8 ; Kol 3:22 ; Tit 2:9-10 ; Mzm 37:37-38 ).

  • Bekerja dengan hati yang penuh kasih

Pekerjaan yang kita lakukan haruslah didasari oleh kasih ( kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama ). Oleh karena itu, pekerjaan kita haruslah pekerjaan yang benar dan berkenan di mata manusia maupun Tuhan. ( I Kor 16:14 ; Ibr 10:24 ; Tit 3:14 ).

  • Bekerjalah dengan hati yang taat

Lakukan pekerjaan kita dengan hati yang taat. Jangan berlaku rajin hanya ketika ada pimpinan, begitu pimpinan tidak ada, semuanya jadi malas-malasan, atau mengerjakan pekerjaan lain yang bukan urusan kantor. Orang yang mempunyai hati yang taat tidak memerlukan pengawasan. ( Ams 6:6-8 ). Pekerjaan harus dilakukan dengan hati yang taat seperti kita taat kepada Tuhan. Dan ketaatan ini tidak hanya dilakukan di depan pimpinan saja, tetapi di setiap waktu.

" Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia ". ( Kol 3:22-23 ).

  • Bekerjalah dengan hati yang bertanggung jawab

Semua majikan pasti akan mencari orang-orang yang bisa bekerja dengan penuh tanggung jawab, sebagaimana yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam " Perumpamaan Tentang Talenta ". ( Mat 25:21 ).

Bekerjalah dengan penuh tanggung jawab ! Selesaikan pekerjaanmu dengan baik, dan jangan tertunda-tunda, dikurangi, apalagi dilalaikan. Dan lihatlah pekerjaan yang lebih besar lagi sudah menunggu anda. Dengan demikian, anda akan terus meningkat, naik, menjadi kepala dan bukan ekor karena hanya orang yang bisa bertanggung jawab yang baik naik sampai ke posisi puncak.

" TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia ". ( Ul 28:13 )



Renungkanlah, kemudian rajinlah bekerja agar apa yang anda cita-citakan menjadi kenyataan karena Tuhan memberkati tangan yang mau berusaha.

Selasa, 07 Agustus 2012

Pandangan Alkitab dan Sikap Kita Terhadap Uang

1. Uang hanya sebagai alat untuk memenuhi berbagai kebutuhan

Pkh 7:12 berkata, " Karena perlindungan hikmat adalah seperti perlindungan uang ..." Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kita mambutuhkan uang. Uang menjadi sarana yang sangat penting untuk memberikan perlindungan terhadap kemiskinan dan berbagai masalah yang diakibatkan oleh kemiskinan. Dengan uang kita dapat menyatakan kasih dan kepedulian kita terhadap sesama ( I Tim 5:8 ; Kis 20:35 ).

Meskipun uang mempunyai peranan penting untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun uang bukanlah segala-galanya, banyak segi di dalam kehidupan manusia yang tidak dapat diukur dan digantikan oleh uang.

2. Uang tidaklah jahat

Rasul Paulus menjelaskan bahwa uang itu sendiri tidaklah jahat, cinta uanglah yang jahat.

" Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka ". ( I Tim 6:10 ).

Perbedaan dari keinginan yang normal akan uang dan cinta akan uang dapat dijelaskan dengan perbedaan nyala api kecil dengan nyala api yang sangat besar. Nyala api kecil / normal dapat dipakai untuk memasak makanan, tetapi nyala api besar dapat melalap habis sebuah hutan.

Keinginan yang normal akan uang sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan hidup, akan memotivasi kita untuk bekerja dan mendapatkan uang. Sedangkan cinta akan uang akan mendorong seseorang untuk melakukan apa saja demi uang. Jangan biarkan diri kita diperhamba oleh uang, tetapi biarlah uang melayani kita dengan cara memandangnya hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.

3. Uang memiliki keterbatasan

Meskipun Salomo memiliki kekayaan yang sangat besar, namun ia mengakui bahwa kelimpahan materi tidak menjamin kebahagiaan seseorang.

Ia menuliskan demikian, " Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Ini pun sia-sia ". ( Pkh 5:9 ).

Melalui uang kita dapat memiliki dan melakukan banyak hal yang kita inginkan, tetapi jangan lupa bahwa banyak pula yang tidak dapat dilakukan oleh uang.

Kekayaan atau uang yang semakin bertambah akan memperbudak orang yang cinta akan uang. Inilah yang Yesus maksudkan dengan " tipu daya kekayaan " di dalam Mat 13:22. Mereka tertipu karena ternyata di dalam kekayaan / uang yang mereka kejar mati-matian, ternyata tidak mereka temukan kepuasan dan kebahagiaan. Keterbatasan uang memang tidak dapat membeli kepuasan dan kebahagiaan, apalagi keselamatan.

4. Tuhan tidak melarang orang menjadi kaya

Pada zaman Alkitab, sudah ada orang kaya maupun orang miskin. Paulus tidak memerintahkan kepada Timotius untuk menyuruh orang kaya meninggalkan kekayaan mereka dan menjadi miskin. Yang ia lakukan adalah menyuruh Timotius menasehati orang-orang kaya untuk membangun sikap yang benar terhadap kekayaan.

" Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya ". ( I Tim 6:17-19 ).

Membangun Sikap Yang Benar Terhadap Uang

1. Merasa puas dengan apa yang kita miliki

Ini bukan berarti kita harus berhenti berusaha karena menganggap bahwa kita tidak bisa lagi mendapatkan berkat yang lebih. Merasa puas di sini adalah dapat menikmati dengan ucapan syukur apa yang Tuhan sudah percayakan dan menganggap semua itu sebagai berkat dari Tuhan ( Ibr 13:5 ; I Tim 6:8 ; Flp 4:11 ).

2. Akui bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada uang

Uang bukan segalanya, karena banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, seperti : hikmat ( Ams 16:16 ), hidup benar ( Ams 28:6 ; 16:8 ; Mzm 37:16 ), tidur nyenyak ( Pkh 5:11 ), kesehatan ( Luk 8:43 ), ketenangan dan damai sejahtera ( Pkh 4:6 ; Ams 15:16 , 17:1 ).

3. Jika Tuhan memberkati kita secara materi, jangan lupakan dia

Banyak orang yang setelah diberkati secara materi, kemudian melupakan Sang Pemberi berkat dan lebih tertarik pada pemberianNya. Ingat bahwa berkat kekayaan asalnya dari Tuhan saja ( Ul 6:10-12 ; 8:17-18 ; Ams 30:7-9 ).

4. Meskipun semua kekayaan anda hilang, itu tidak akan mempengaruhi hubungan anda dengan Tuhan.

Apa yang kita miliki merupakan kepercayaan dari Tuhan selama kita di dunia. Kalaupun kekayaan Kita hilang, jangan salahkan Tuhan dan kecewa terhadapNya. Hubungan denganNya jauh lebih penting dari pada materi karena materi tidak akan kita bawa pergi ketika meninggal ( Ayb 1:20-22 ).

5. Jangan iri terhadap kekayaan orang lain

Nikmatilah berkat masing-masing yang Tuhan sudah percayakan dan jangan mengukur segala sesuatunya dengan uang atau kekayaan. Ingat, hubungan dengan Tuhan jauh lebih penting ( Mzm 49:17-18 ; Kel 20:17 ).

6. Sadari budaya materialisme dalam masyarakat kita

Materialisme adalah budaya yang mendasarkan segala sesuatunya pada materi atau benda. Melalui berbagai media atau pun iklan ditawarkan gaya hidup materialistis dan ini akan membawa pengaruh negatif bagi kita. Lindungi diri dari pengaruh ini, pastikan bahwa perkara-perkara rohani lebih penting bagi anda.



Bekerjalah semaksimal mungkin, libatkan Tuhan sebagai sumber hikmat dan kekuatan dan nikmatilah hasil jerih lelah anda juga dengan bimbingan Tuhan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Pandangan Alkitab dan Sikap KIta Terhadap Kerja

1. Bekerja adalah perintah Tuhan

Ada orang yang berkata, " Seandainya Adam dan Hawa tidak jatuh kedalam dosa, maka kita tidak akan capek untuk bekerja seperti sekarang ini ". Ini merupakan pemahaman yang salah dan merupakan keinginan dari orang-orang yang malas bekerja. Sebenarnya perintah untuk bekerja sudah diberikan Tuhan sebelum manusia itu jatuh ke dalam dosa ( Kej 1:28 ; 2:15 ,19 ), kejatuhan manusia ke dalam dosa hanya menambah usaha di dalam bekerja menjadi lebih berat ( Kej 3:17-19 ).

Today's English Version ( TEV ) menuliskan Kej 2:15 demikian, " Then the LORD God placed the man in the Garden of Eden to cultivate it and guard it, " artinya : " Tuhan Allah menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan / menemani dan menjaga / memeliharanya ".

Untuk saat itu, pekerjaan yang dilakukan oleh Adam dan Hawa adalah mengurus taman Eden beserta isinya. Tetapi untuk sekarang ini, ayat ini harus dipahami secara lebih luas di mana kita harus mengerjakan dengan penuh tanggung jawab pekerjaan atau pun tugas kita sehari-hari, demi kelangsungan dan keseimbangan hidup.

2. Siapa yang tidak mau bekerja jangan lah ia makan

Kepada jemaat di Tesalonika Paulus menasehatkan , " ... jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan ". Meskipun sebagai hamba Tuhan, Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya berhak menerima sokongan dari jemaat yang mereka layani, tetapi ia memberikan teladan dengan bekerja sendiri sebagai tukang tenda, untuk memenuhi kebutuhannya dan juga kebutuhan teman-temannya ( Kis 18:3 ). Hal ini ia lakukan agar tidak membebani siapa pun, selain itu ia juga ingin mengajarkan kepada jemaat bahwa mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka dan tidak hanya mengharapkan berkat melalui jerih payah orang lain yang artinya menjadi beban bagi orang lain.

Di dalam keluarga, kita dapat menanamkan prinsip ini dengan memberikan tugas atau tanggung jawab yang harus dikerjakan oleh setiap anggota keluarga. Dengan demikian, mereka akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu, mereka harus bekerja.

3. Orang yang rajin bekerja akan diberkati

Ams 10:4 berkata, " Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya ". Benar bahwa Tuhan empunya segala-galanya dan kita bisa meminta di dalam doa agar Ia memberkati kita. Tetapi Alkitab tidak pernah mengajar kita untuk menjadi orang-orang yang malas. Bahkan, Alkitab menentang sifat malas ( Ams 6:6-11 ). yang Alkitab ajarkan adalah " orang yang rajin akan diberkati ". Di masyarakat kita tidak jarang terjadi kecemburuan sosial terhadap orang-orang kaya. Kecemburuan ini berujung pada pengrusakan, perampokan bahkan penganiayaan terhadap orang kaya. Pernahkah kita mencari tahu bagaimana mereka memperoleh kekayaan itu ? Di dalam satu hari berapa jam mereka korbankan untuk bekerja ? Mungkin ketika kita masih tidur lelap, mereka sudah mulai bekerja. Yang seharusnya kita lakukan adalah bekerja lebih rajin, maka Tuhan akan memberkati kita.

Beberapa orang salah di dalam memahami arti " hidup dengan iman ". Mereka berpikir bahwa mereka tidak perlu lagi bekerja dan cukup berdoa saja maka Tuhan akan menurunkan berkatNya. Jika anda mampu untuk bekerja, bekerjalah dan percayalah bahwa Tuhan akan memberkati apa yang anda kerjakan.

Ams 12:24 berkata, " Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa ".

4. Buanglah mental pengemis

Yang dimaksud dengan mental pengemis adalah mental yang suka meminta-minta. Orang yang memiliki mental pengemis hanya bisa meminta serta mengharapkan belas kasihan orang lain, tetapi ia sendiri tidak mau bekerja. Akar dari mental pengemis ini tidak lain adalah kemalasan. Ada orang yang ingin mendapatkan uang atau barang yang ia inginkan, tetapi malas bekerja, malas berusaha. Ia memilih cara yang lebih gampang, yaitu meminta-minta. Hamba Tuhan pun tidak sedikit yang memiliki mental pengemis dengan meminta ke sana-sini. Janganlah kita merusak citra diri dan pelayanan kita dengan membiasakan diri menjadi peminta-minta. Firman Tuhan mengingatkan agar kita bekerja, sehingga dengan demikian memakan makanan kita sendiri ( II Tes 3:12 ).

Lihatlah bagaimana Paulus memberikan teladan hidup yang baik sebagai hamba Tuhan, dengan bekerja sendiri memenuhi kebutuhannya dan rekan-rekan sepelayanannya. Bahkan, ia bekerja tidak hanya untuk memenuhi kebutuhannya tetapi juga dengan maksud agar bisa membantu orang-orang yang lemah ( Kis 20:35 ). Sedapat mungkin bekerja dan berusahalah, jangan hanya mengharapkan belas kasihan orang lain. Paulus mengajarkan bahwa kita bekerja bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan kita sendiri, tetapi agar kita juga bisa memberi kepada orang lain.

" ... tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan ". ( Ef 4:28 ).

5. Bekerjalah seperti untuk Tuhan

Standar moral tertinggi di dalam bekerja adalah bekerja seperti untuk Tuhan. Orang yang menyadari bahwa melalui pekerjaannya setiap hari ia sedang bekerja untuk Tuhan dan melayaniNya, maka ia akan mengerjakan pekerjaannya itu dengan segenap hati. Jika kita bekerja sebagai karyawan, dalam sehari waktu yang kita gunakan untuk bekerja ada sekitar 8 jam. Ini artinya, dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00, kita menghabiskan sekitar 67 % waktu kita untuk bekerja. Dalam waktu kerja yang cukup panjang itu, bagaimanakah sikap kita di dalam bekerja ? Adakah kita menganggap seluruh aspek kehidupan kita sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, sehingga dengan begitu kita akan bekerja dengan segenap hati.

Berikut ini adalah beberapa sikap yang harus kita kembangkan sebagai pekerja-pekerja yang taat kepada Tuhan dan yang menyadari bahwa kita bekerja bagiNya.



A. Bekerja dengan jujur

Bekerjalah sesuai aturan yang ada, jangan curang dengan mencuri jam kerja untuk mengerjakan pekerjaan pribadi, jangan malas-malasan atau berpura-pura sakit, jangan " makan tulang " dengan menyuruh orang lain mengerjakan pekerjaan anda, sementara anda bersantai-santai. Majikan ataupun pimpinan mungkin tidak tahu ketidakjujuran ini, tetapi ingat bahwa Tuhan selalu mengawasi kita dan Ia akan memperhitungkan semuanya.

Ef 6:5-7 berkata, " Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia ".

B. Bekerja dengan penuh tanggung jawab

Bekerja dengan penuh tanggung jawab adalah mengerjakan dengan sebaik-baiknya tugas dan tanggung jawab kita. Tidak bekerja asal bekerja atau supaya kelihatan bekerja. Sara Bradley mengatakan bahwa cara dan sikap seseorang terhadap pekerjaan akan mencerminkan nilai diri orang tersebut dan tanggung jawabnya terhadap kehidupannya. Apakah anda seorang karyawan yang bekerja untuk orang lain atau anda bekerja sendiri, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya hingga tuntas dan mendatangkan hasil memuaskan. Janganlah pekerjaan anda akhirnya menyusahkan orang lain karena anda tidak bertanggung jawab di dalam mengerjakannya.

C. Bekerja tanpa bersungut-sungut

Orang yang mengerjakan sesuatu dengan bersungut-sungut dan mengomel, menandakan bahwa ia melakukan itu dengan terpaksa. Dan ketika seseorang mengerjakan sesuatu dengan terpaksa dan tidak dengan hati yang tulus, maka dapat dipastikan bahwa hasil kerjanya tidak akan memuaskan. Ingat bahwa kerja adalah ibadah.

Itu sebabnya, " Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan ". ( Flp 2:14 ). 

Tuhan sangat peduli terhadap orang-orang yang setia dan terhadap mereka yang taat. Ketika kita bekerja dengan jujur, penuh tanggung jawab dan tanpa bersungut-sungut, Tuhan memperhitungkan semua itu dan akan memberikan upah yang pantas dan mungkin tidak pernah terpikirkan oleh akal kita. Bahkan Tuhan tidak pernah mau berhutang kepada kita. Jadi, apa pun yang kita kerjakan, kerjakanlah dengan segenap hati.

Kamis, 02 Agustus 2012

Apa yang harus saya lakukan

Sebaiknya sebelum anda membaca konten ini lebih lanjut, alangkah baiknya anda membaca terlebih dahulu konten :

Proyek filipus I
Proyek filipus II
Proyek filipus III
Proyek filipus IV


Setelah mempelajari 1-4, maka kita mengetahui bahwa :

  • Manusia sangat berharga di mata TUHAN.
  • DOSA merusak hubungan antara Allah dan manusia.
  • Semua manusia itu berdosa dan tidak dapat keluar dari maut.
  • Hanya TUHAN yang dapat membebaskan manusia dari dosa.
  • Kematian dan kebangkitan Yesus menjadi jalan keluar dan pengharapan.




Akhirnya, apa yang harus kita lakukan agar dosa kita diampuni dan kita beroleh hidup yang kekal ? ada 3 hal yang harus anda lakukan :

1. BERTOBAT

Artinya :

  • Mengaku bahwa anda berdosa.
  • Sungguh-sungguh menyesali apa yang anda perbuat.
  • Berbalik arah dan menjauhi dosa.

2. PERCAYA KEPADA YESUS


3. TERIMALAH YESUS DALAM HIDUPMU

Berdoalah melalui doa berikut :

" Tuhan Yesus, saya mengakui bahwa saya berdosa dan saya memerlukan pengampunan. Saya sungguh-sungguh ingin meninggalkan dosa-dosa saya. Saya percaya bahwa engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau telah menebus dosaku dan menyucikan hidupku. Saya menyerahkan hidupku ke dalam tangan-Mu mulai dari saat ini. Terima kasih karena Engkau telah menyelamatkan saya. Dalam nama Tuhan Yesus. Amin!"

Apakah saya sudah diselamatkan ?

Alkitab menulis : "Barang siapa memiliki anak ( Yesus ), ia memiliki hidup ; barang siapa tidak memiliki anak ( Yesus ), ia tidak memiliki hidup." ( 1 Yohanes 5:12 )

Lalu apa ?

Orang yang baru bertobat harus memiliki kerinduan untuk bertumbuh dengan melakukan tiga hal berikut :

1. Membaca Alkitab

Firman Allah adalah kekuatan dan santapan bagi jiwa kita.

2. Berdoa

Curahkanlah seluruh isi hati dan syukur kita melalui doa.

3. Bersekutu dengan sesama saudara seiman

Dengan bersekutu kita dapat saling menguatkan sebagai anggota Keluarga Allah.