Senin, 13 Agustus 2012

Hutang, siapakah engkau sebenarnya ? lawankah atau kawankah ?

Sampai saat ini masalah hutang masih merupakan masalah yang kontroversial di kalangan orang-orang kristen. Ada yang pro, ada juga yang kontra. Ada yang bersyukur lepas dari hutang, namun ada juga yang bersyukur ketika mendapatkan hutang. Ada yang minta didoakan agar lepas dari jeratan hutang, ada yang minta didoakan agar dapat tambahan hutang. Ada yang mengatakan hutang adalah dosa, ada juga yang mengatakan hutang adalah berkat. Berbagai pendapat yang berbeda dari hamba-hamba Tuhan membuat jemaat menjadi bertambah bingung. Hutang, siapakah engkau sebenarnya ? lawankah atau kawankah ?

Dosakah berhutang ?

Tentu saja tidak ! Namun memang ada orang-orang yang menganggap bahwa berhutang artinya mengandalkan atau berharap kepada manusia, tidak mengandalkan Tuhan, itu artinya dosa. Lalu, mengapa kita berani mengatakan bahwa berhutang bukanlah hal yang berdosa ?

  • Jika berhutang adalah perbuatan yang berdosa, maka hukum Musa dan Tuhan Yesus tidak akan menganjurkan umat Tuhan untuk memberikan pinjaman karena hal itu hanya akan membuat orang lain jatuh ke dalam dosa.
Di sini kita justru melihat bahwa orang-orang yang memberi pinjaman adalah orang-orang yang diberkati hidupnya oleh Tuhan, orang yang berkenan kepadaNya dan dikatakan sebagai orang mujur, bukan orang yang membuat orang lain jatuh dalam dosa.

" Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati atau pun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan ". ( Ul 15:7-8 )

" TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaanNya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman ". ( Ul 28:12 )

" TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepadaNya ; apabila ia jatuh, tidak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti ; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat ". ( Mzm 37:23-26 )

" Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya ". ( Mzm 112:5 )

" Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu ". ( Mat 5:42 )

  • Di dalam perumpamaan tentang pengampunan, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa hutang adalah dosa yang harus dihukum namun hutang adalah kewajiban yang harus dibayar.
" Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk membayar hutangnya ". ( Mat 18:21-35 )

  • Di dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang bendahara yang tidak jujur, nampaknya masalah berhutang merupakan suatu hal yang lazim terjadi pada zaman itu. Dalam perumpamaan itu hutangnya berbentuk natura. Tidak ada kesan bahwa Tuhan Yesus menyatakan hutang tersebut adalah suatu perbuatan dosa.
" Lalu ia memangil seorang demi seorang yang berhutang kepada tuannya. Katanya kepada yang pertama : Berapakah hutangmu kepada tuanku ? Jawab orang itu : Seratus tempayan minyak. Lalu katanya kepada orang itu : Inilah surat hutangmu, duduklah dan buat surat hutang lain sekarang juga : Lima puluh tempayan. Kemudian ia berkata kepada yang kedua : Dan berapakah hutangmu ? Jawab orang itu : Seratus pikul gandum. Katanya kepada orang itu : Inilah surat hutangmu, buatlah surat hutang lain : Delapan puluh pikul ". ( Bacalah keseluruhan Luk 16:1-9 )