Selasa, 06 November 2012

Diciptakan untuk kekekalan

Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka
Pengkhotbah 3:11


Kehidupan di bumi hanyalah gladi bersih sebelum pelaksanaan yang sesungguhnya. Anda akan menghabiskan jauh lebih banyak waktu di sisi lain dari sesudah kematian, yaitu di dalam kekekalan, dari pada waktu di bumi ini. Bumi adalah daerah persiapan, pra-sekolah, uji coba bagi kehidupan anda di kekekalan. Inilah masa latihan sebelum permainan yang sesungguhnya ; putaran pemanasan sebelum pertandingan dimulai. Kehidupan ini adalah persiapan untuk menghadapi kehidupan berikutnya.

Anda bisa hidup paling tinggi seratus tahun di bumi, tetapi anda akan hidup selamanya di kekekalan. Anda diciptakan untuk hidup selama-lamanya.

Alkitab berkata, " Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. " ( Pengkhotbah 3:11 ). Anda memiliki suatu naluri bawaan yang merindukan kekekalan. Ini karena Allah merancang anda, menurut gambar-Nya, untuk hidup kekal. Sekalipun kita tahu bahwa semua orang akhirnya meninggal, kematian selalu terasa tidak wajar dan tidak adil. Alasannya mengapa kita merasa bahwa seharusnya kita hidup selamanya adalah karena Allah melengkapi otak kita dengan keinginan tersebut !

Suatu hari jantung anda akan berhenti berdetak. Ini akan merupakan  akhir tubuh anda dan waktu anda di bumi, tetapi tidak akan merupakan akhir dari diri anda. Tubuh duniawi anda hanyalah kediaman sementara bagi roh anda. Alkitab menyebut tubuh duniawi anda suatu " kemah, " tetapi menunjuk pada tubuh masa depan anda sebagai sebuah " rumah. " Alkitab berkata, " Jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. " ( 2 Korintus 5:1 )

Sementara kehidupan di bumi menawarkan banyak pilihan, kekekalan menawarkan hanya dua pilihan : sorga atau neraka. Hubungan anda dengan Allah di bumi akan menentukan hubungan anda dengan-Nya di dalam kekekalan. Jika anda belajar untuk mengasihi dan mempercayai anak Allah, Yesus, anda akan diundang untuk menghabiskan kekekalan anda bersama Dia. Sebaliknya, jika anda menolak kasih, pengampunan, dan keselamatan-Nya, anda akan menghabiskan kekekalan anda terpisah dari Allah selamanya.

Apabila anda sepenuhnya memahami bahwa kehidupan ini bukan sekadar yang ada sekarang, dan anda memahami bahwa kehidupan hanyalah persiapan untuk menghadapi kekekalan, anda akan mulai hidup dengan berbeda. Anda akan mulai hidup dalam terang kekekalan, dan itu akan mewarnai cara anda menangani semua hubungan, tugas dan keadaan. Tiba-tiba banyak kegiatan, sasaran dan bahkan masalah yang tampak begitu penting akan kelihatan tidak penting, kecil, dan tidak layak mendapatkan perhatian anda. Semakin dekat anda hidup dengan Allah, semakin kecil kelihatannya segala sesuatu yang lain.

Ketika anda hidup dengan mempertimbangkan kekekalan, nilai-nilai anda berubah. Anda menggunakan waktu dan uang anda secara lebih bijak. Anda menghargai lebih tinggi pada hubungan dan karakter daripada kepopuleran atau kekayaan atau prestasi atau bahkan kesenangan. Prioritas-prioritas anda ditata ulang. Soal mengikuti trend, model pakaian, dan nilai-nilai populer tidaklah penting lagi. Paulus berkata, " Aku pernah menganggap semua hal ini sangat penting, tetapi sekarang aku menganggap semua itu tidak berharga karena apa yang telah Kristus lakukan. " ( Filipi 3:7 )

Seperti apakah keadaannya kelak di dalam kekekalan bersama Allah ? Terus terang, kemampuan otak kita tidak bisa menghadapi keajaiban dan kehebatan surga. Itu sama seperti mencoba menggambarkan internet kepada seekor semut. Tidak ada gunanya. Belum ditemukan kata-kata yang mungkin bisa menyampaikan pengalaman kekekalan. Alkitab berkata, " Tidak seorang manusia pun pernah melihat, mendengar atau pun membayangkan hal-hal indah yang disediakan Allah bagi orang yang mengasihi Dia. " ( 1 Korintus 2:9 )

Namun Allah telah memberikan kepada kita penglihatan sekilas tentang kekekalan di dalam Firman-Nya. Kita mengetahui bahwa saat ini juga Allah sedang mempersiapkan sebuah rumah kekal bagi kita. Di surga kita akan dipersatukan kembali dengan saudara-saudara kita yang adalah orang-orang yang percaya, dibebaskan dari segala penderitaan dan kesusahan, diberi upah atas kesetiaan kita di bumi, dan ditugaskan kembali untuk melakukan pekerjaan yang akan senang kita lakukan. Kita bukan akan berbaring di awan-awan dengan mahkota sambil memainkan harpa ! Kita akan menikmati hubungan yang tak pernah putus dengan Allah, dan Dia akan memiliki kita untuk selama-lamanya. Suatu hari Yesus akan berkata, " Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. " ( Matius 25:34 )

Allah memiliki suatu tujuan bagi kehidupan anda di dunia, tetapi itu tidak berakhir di sini. Rencana-Nya mencakup jauh lebih banyak dari pada beberapa dekade yang akan anda habiskan di planet ini. Itu bukan sekadar " kesempatan seumur hidup " ; Allah memberi anda suatu kesempatan yang melebihi umur hidup anda. Alkitab berkata, " Rencana Tuhan tetap selama-lamanya, tujuan-tujuan-Nya kekal. " ( Mazmur 33:11 )

Jika anda memiliki suatu hubungan dengan Allah melalui Yesus, anda tidak perlu takut akan kematian. Itulah pintu menuju kekekalan. Kematian akan menjadi jam terakhir dari waktu anda di bumi, tetapi bukan akhir dari diri anda. Bukannya merupakan akhir dari kehidupan anda, kematian justru merupakan hari kelahiran anda ke dalam kehidupan kekal. Alkitab berkata, " Sebab dunia ini bukanlah tempat tinggal kita ; dengan penuh pengharapan kita menantikan tempat tinggal kita yang kekal di surga. " ( Ibrani 13:14 )

Dibandingkan dengan kekekalan, waktu kita di bumi hanyalah sekejap mata, tetapi akibatnya akan kekal. Perbuatan-perbuatan dalam kehidupan ini menentukan nasib dalam kehidupan berikutnya. Kita seharusnya " Sadar bahwa selama kita masih hidup di dunia ini selama itu pula kami jauh dari surga, tempat Yesus berada. " ( 2 Korintus 5:6 ). Bertahun-tahun lalu sebuah slogan populer mendorong orang-orang untuk hidup setiap hari seperti " hari pertama dari sisa hidup anda. " Sesungguhnya, akan lebih bijak untuk hidup setiap hari seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kehidupan anda. " Seharusnya setiap hari kita bersiap-siap untuk menghadapi hari terakhir kita. "