Minggu, 30 Desember 2012

Memandang Kehidupan dari Sudut Pandang Allah


Apakah arti hidupmu ?
Yakobus 4:14b

Bagaimana anda mendefinisikan kehidupan menentukan masa depan anda. Perspektif anda akan mempengaruhi cara anda memanfaatkan waktu anda, membelanjakan uang anda, menggunakan talenta anda, dan menilai hubungan anda.

Salah satu cara terbaik untuk memahami orang lain adalah menanyakan mereka, " Bagaimana anda memandang kehidupan anda ? " anda akan menemukan bahwa ada banyak jawaban berbeda untuk pertanyaan tersebut sebanyak jumlah orang yang ditanyai. Saya pernah diberi tahu bahwa kehidupan adalah bagaikan sebuah sirkus, sebuah daerah ranjau, sebuah roller coaster, sebuah teka-teki, sebuah simfoni, sebuah perjalanan, dan sebuah tarian. Orang-orang berkata, " Kehidupan bagaikan roda : Kadang-kadang anda di atas, kadang-kadang anda di bawah, dan kadang anda hanya berputar-putar " atau " kehidupan bagaikan sepeda dengan kecepatan 10 km/jam dengan persneling yang tidak pernah kita pakai " atau " kehidupan bagaikan permainan kartu : anda harus memainkan kartu yang dibagikan kepada anda. "

Jika saya bertanya bagaimana anda menggambarkan kehidupan, gambar apa yang muncul di benak anda ? gambar tersebut adalah metafora kehidupan anda. Itulah pandangan tentang kehidupan yang anda pegang secara sadar atau tidak sadar, dalam pikiran anda. Itulah gambaran anda tentang bagaimana kehidupan berjalan dan apa yang anda harapkan dari kehidupan itu. Orang-orang seringkali menunjukkan metafora kehidupan mereka melalui pakaian, perhiasan, mobil, potongan rambut, tempelan stiker di bemper, bahkan tato.

Metafora kehidupan anda yang tidak diucapkan mempengaruhi kehidupan anda lebih dari yang anda sadari. Ini menentukan harapan-harapan anda, nilai-nilai anda, hubungan-hubungan anda, sasaran-sasaran anda, dan prioritas-prioritas anda. Contohnya, jika anda menganggap kehidupan adalah sebuah pesta, nilai utama anda di dalam kehidupan adalah bersenang-senang. Jika anda melihat kehidupan sebagai suatu balapan, anda akan menghargai kecepatan dan mungkin akan seringkali berada dalam ketergesa-gesaan. Jika anda memandang kehidupan sebagai suatu pertandingan lari maraton, anda akan menghargai ketekunan. Jika anda memandang kehidupan sebagai sebuah pertempuran atau permainan, menang akan menjadi sangat penting bagi anda.

Bagaimana pandangan anda tentang kehidupan ? anda mungkin mendasarkan kehidupan anda pada suatu metafora kehidupan yang keliru. Untuk memenuhi tujuan-tujuan Allah sang pencipta anda, anda harus menantang pandangan umum dan menggantikan dengan metafora alkitab tentang kehidupan. Alkitab berkata, " Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah : apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. " ( Roma 12:2 )

Alkitab memberikan tiga metafora yang mengajarkan kepada kita pandangan Allah tentang kehidupan :
  1. Kehidupan adalah sebuah Ujian
  2. Kehidupan adalah sebuah Kepercayaan
  3. Kehidupan adalah sebuah Penugasan Sementara


Kehidupan adalah sebuah penugasan sementara



Kehidupan di bumi adalah suatu penugasan sementara. Alkitab penuh dengan metafora yang mengajarkan tentang sifat kehidupan di muka bumi, yaitu bersifat singkat, sementara, dan fana. Kehidupan digambarkan seperti kabut, pelari cepat, nafas, dan segumpal asap. Alkitab berkata, " Sebab kita, anak-anak kemarin ... hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi. " ( Ayub 8:9 )

Untuk memanfaatkan kehidupan anda secara maksimal, anda jangan pernah melupakan dua kebenaran : Pertama, dibandingkan dengan kekekalan, kehidupan amatlah singkat. Kedua, bumi hanyalah tempat kediaman sementara. Anda tidak akan lama berada di sini, jadi jangan terlalu terikat pada bumi. Mintalah agar Allah membantu anda melihat kehidupan di bumi sebagaimana Dia melihatnya. Daud berdoa, " TUHAN, tolong aku untuk menyadari betapa singkatnya hidupku di dunia ini ! Tolong aku untuk mengetahui bahwa waktuku di sini hampir habis !" ( Mazmur 39:4 )

Berulang-ulang Alkitab membandingkan kehidupan di bumi dengan kehidupan sementara di sebuah negeri asing. Bumi bukanlah rumah tetap atau tujuan akhir anda. Anda hanya lewat, hanya berkunjung ke bumi. Alkitab menggunakan istilah-istilah seperti orang asing, peziarah, pendatang, pengunjung, dan musafir untuk menggambarkan kediaman kita yang singkat di bumi. Daud berkata, " Aku ini orang asing di dunia " ( Mazmur 119:19 ) dan Petrus menjelaskan, " Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, ... maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini." ( 1 Petrus 1:17 )

Identitas anda ada di dalam kekekalan, dan tanah air anda adalah surga. Bila anda memahami kebenaran ini, anda akan berhenti cemas memikirkan soal " memiliki semuanya " di bumi. Allah berbicara dengan sangat jelas tentang bahayanya jika kita hidup demi waktu sekarang dan jika kita memakai nilai-nilai, prioritas-prioritas, dan gaya hidup dunia sekeliling kita. Bila kita bermain-main dengan pencobaan-pencobaan dunia ini, Allah menyebut perzinahan rohani. Alkitab berkata, " Kamu tidak setia kepada Allah. Jika kamu hanya mau mengikuti kehendakmu sendiri, bermain-main dengan dunia setiap ada kesempatan, maka kamu akhirnya menjadi musuh Allah dan orang yang melawan kehendak-Nya. " ( Yakobus 4:4 )

Bayangkan jika anda diminta oleh negara anda untuk menjadi duta besar di sebuah negara musuh. Anda mungkin harus belajar bahasa yang baru dan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan dan perbedaan budaya agar bisa berlaku sopan dan bisa menyelesaikan misi anda. Sebagai seorang duta besar, anda tidak akan mampu mengisolasi diri dari musuh. Untuk menyelesaikan misi anda, anda tentu harus memiliki kontak dan berhubungan dengan mereka.

Tetapi seandainya anda menjadi begitu nyaman dengan negara asing ini sehingga anda jatuh cinta padanya, dan lebih menyukainya ketimbang tanah air anda. Kesetiaan dan komitmen anda akan berubah. Peran anda sebagai duta besar akan membahayakan. Bukannya mewakili negara asal anda, anda akan mulai bertindak seperti musuh. Anda akan menjadi pengkhianat.

Alkitab berkata, " Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus " ( 2 Korintus 5:20 ) yang menyedihkan, banyak orang Kristen telah mengkhianati Raja mereka dan kerajaan-Nya. Mereka dengan bodohnya menyimpulkan bahwa karena mereka hidup di bumi, maka bumi lah rumah mereka. Padahal bukan. Alkitab dengan jelas berkata, " Saudara-saudaraku, dunia ini bukan rumahmu, karena itu jangan membuat dirimu betah di dalamnya. " ( 1 Petrus 2:11 ) Allah memperingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada apa yang ada di sekeliling kita karena semua itu bersifat sementara. Kita diberi tahu, " Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. " ( 1 Korintus 7:31 )

Fakta bahwa bumi bukanlah rumah terakhir kita memperjelas mengapa, sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita mengalami kesulitan, penderitaan dan penolakan di dalam dunia ini. ( Yohanes16:33 ; 16:20 ; 15:18-19 ) Hal tersebut juga menjelaskan mengapa beberapa janji Allah tampaknya tidak digenapi, beberapa doa tampaknya tidak dijawab, dan beberapa keadaan tampaknya tidak adil. Ini bukanlah akhir kisah.

Untuk menjaga agar kita tidak menjadi terlalu terikat pada dunia, Allah membiarkan kita merasakan cukup banyak kesedihan dan ketidakpuasan di dalam kehidupan, yakni keinginan-keinginan yang tidak pernah akan terpenuhi di sisi ini dari kekekalan. Kita tidak benar-benar bahagia di sini karena seharusnya memang tidak ! Bumi bukanlah rumah terakhir kita ; kita diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih baik.

Seekor ikan tidak pernah bahagia hidup di daratan, karena ikan dijadikan untuk air. Seekor elang tidak pernah bisa merasa puas jika hewan itu tidak dibolehkan terbang. Anda tidak akan pernah merasa benar-benar puas di bumi, karena anda dijadikan untuk sesuatu yang lebih dari itu. Anda akan memiliki saat-saat bahagia di sini, tetapi tidak ada yang sebanding dengan apa yang Allah telah rencanakan bagi anda.

Menyadari bahwa kehidupan di bumi hanyalah suatu penugasan sementara seharusnya mengubah nilai-nilai anda secara radikal. Nilai-nilai kekal dan bukan nilai-nilai sementara, yang seharusnya menjadi faktor-faktor penentu bagi keputusan-keputusan anda. Alkitab berkata, " Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. " ( 2 Korintus 4:18 )

Mengira bahwa tujuan Allah bagi kehidupan anda adalah kekayaan materi atau keberhasilan populer sebagaimana yang didefinisikan oleh dunia adalah salah besar. Kehidupan yang berkelimpahan tidak ada kaitannya dengan kelimpahan materi, dan kesetiaan kepada Allah tidak menjamin keberhasilan dalam karier atau bahkan dalam pelayanan. Jangan pernah memusatkan perhatian pada mahkota-mahkota yang sementara. ( 1 Petrus 2:11 )

Paulus setia, tetapi dia berakhir di penjara. Yohanes Pembaptis setia, tetapi dia dipenggal. Jutaan orang yang setia mati sebagai martir, kehilangan segalanya, atau mencapai ajal tanpa ada hasil apa pun. Tetapi akhir kehidupan bukanlah akhirnya !

Ketika kehidupan menjadi sulit, ketika anda diliputi oleh keraguan, atau ketika anda bertanya-tanya dalam hati apakah hidup bagi Kristus layak diperjuangkan, ingatlah bahwa anda belum pulang. Saat kematian, anda bukan meninggalkan rumah, anda justru pulang.

Kehidupan adalah sebuah kepercayaan


Kehidupan di bumi adalah sebuah kepercayaan. Inilah metafora jenis kedua dalam alkitab tentang kehidupan. Waktu yang kita miliki di bumi serta tenaga, kepandaian, kesempatan, hubungan dan kekayaan kita, semuanya adalah pemberian dari Allah yang Dia percayakan dalam pemeliharaan dan pengelolaan kita. Kitalah penata layan dari segala sesuatu yang diberikan Allah kepada kita. Konsep penata layanan ini dimulai dengan pengakuan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu dan semua orang di muka bumi. Alkitab berkata, " Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya. " ( Mazmur 24:1 )

Kita tidak pernah benar-benar memiliki apa pun selama kediaman singkat kita di bumi. Allah hanya meminjamkan bumi kepada kita pada waktu kita ada di sini. Bumi adalah milik Allah sebelum anda datang, dan Allah akan meminjamkannya kepada orang lain setelah anda meninggal. Anda hanya bisa menikmatinya sesaat.

Ketika Allah menciptakan Adam dan Hawa, Dia mempercayakan pemeliharaan atas ciptaan-Nya kepada mereka dan menunjuk mereka sebagai pengelola atas milik-Nya. Alkitab berkata, " Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, Aku memberi engkau kuasa. " ( Kejadian 1:28 )

Pekerjaan pertama yang Allah berikan kepada manusia adalah mengelola dan memelihara " barang-barang " Allah di bumi. Peran ini tidak pernah dibatalkan. Ini merupakan sebagian dari tujuan kita sekarang. Segala sesuatu yang kita nikmati harus diperlakukan sebagai sebuah kepercayaan yang Allah tempatkan di tangan kita. Alkitab berkata, " Bukankah segala sesuatu saudara terima dari Allah ? Jadi, mengapa mau menyombongkan diri, seolah-olah apa yang ada pada saudara itu bukan sesuatu yang diberi ? " ( 1 Korintus 4:7b )

Budaya kita berkata, " Jika kamu tidak memilikinya, kamu tidak akan mempedulikannya. " Tetapi orang-orang Kristen hidup dengan standar yang lebih tinggi : " Karena Allah memilikinya, saya harus memeliharanya sebaik mungkin. " Alkitab mengatakan, " Orang-orang yang kepada mereka dipercayakan sesuatu yang berharga harus menunjukkan bahwa mereka ternyata dapat dipercaya. " ( 1 Korintus 4:2 ). Yesus sering kali menunjuk kehidupan sebagai sebuah kepercayaan dan menceritakan banyak kisah untuk menggambarkan tanggung jawab ini kepada Allah. Dalam kisah tentang talenta, ( Matius 25:14-29 ) seorang pengusaha mempercayakan kekayaannya kepada pemeliharaan hamba-hambanya sementara dia pergi. Ketika dia kembali, dia mengevaluasi tanggung jawab setiap hambanya dan memberi mereka upah atas itu. Sang pemilik berkata, " Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. " ( Matius 25:21 )

Pada akhir kehidupan anda di dunia, anda akan dievaluasi dan diberi upah sesuai dengan seberapa baik anda telah mengurus apa yang Allah percayakan kepada anda. Ini berarti segala sesuatu yang anda kerjakan, bahkan tugas-tugas harian yang sederhana, memiliki implikasi kekal. Jika anda memperlakukan segala sesuatu sebagai suatu kepercayaan, Allah menjanjikan tiga imbalan dalam kekekalan yaitu :
  1. Anda akan diberi peneguhan Allah : Dia akan berkata, " Baik sekali perbuatanmu !"
  2. Anda akan menerima promosi dan diberi tanggung jawab yang lebih besar di dalam kekekalan : " Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. "
  3. Anda akan dihormati dengan sesuatu perayaan : " Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. "
Banyak orang gagal menyadari bahwa uang merupakan sebuah ujian sekaligus sebuah kepercayaan dari Allah. Allah menggunakan keuangan untuk mengajar kita untuk mempercayai-Nya, dan bagi banyak orang, uang adalah ujian terbesar. Allah melihat bagaimana kita menggunakan uang untuk menguji bagaimana kita layak dipercayai. Alkitab berkata, " Jadi, kalau mengenai kekayaan dunia ini kalian sudah tidak dapat dipercayai, siapa mau mempercayakan kepadamu kekayaan rohani ? " ( Lukas 16:11 )

 Inilah kebenaran yang sangat penting. Allah berfirman bahwa ada hubungan langsung antara cara saya menggunakan uang saya dengan kualitas kehidupan rohani saya. Bagaimana saya mengelola uang saya ( " kekayaan dunia " ) menentukan seberapa banyak Allah bisa mempercayai saya dengan berkat-berkat rohani ( " kekayaan rohani " ).  Izinkan saya bertanya kepada anda : Apakah cara anda mengelola uang anda menghalangi Allah melakukan lebih banyak hal di dalam kehidupan anda ? Bisakah anda dipercayai dengan kekayaan-kekayaan rohani ?

Yesus berkata, " Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut. " ( Lukas 12:48b ). Kehidupan merupakan ujian dan kepercayaan, dan semakin banyak Allah memberi kepada anda, semakin banyak tanggung jawab yang Dia harapkan dari anda.

Kehidupan adalah sebuah ujian


Kehidupan di bumi adalah sebuah ujian. Metafora kehidupan yang ini terlihat dalam kisah-kisah di seluruh alkitab. Alkitab terus-menerus menguji karakter, iman, ketaatan, kasih, integritas, dan kesetiaan manusia. Kata-kata seperti pencobaan, pemurnian, dan ujian muncul lebih dari 200 kali dalam alkitab. Allah menguji Abraham dengan menyuruhnya mempersembahkan anaknya Ishak. Allah menguji Yakub ketika dia harus bekerja beberapa tahun tambahan untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya.

Adam dan Hawa gagal dalam ujian mereka di Taman Eden, dan Daut gagal dalam ujiannya yang diberi Allah pada beberapa peristiwa. Tetapi alkitab juga memberi kita banyak teladan dari orang-orang yang lulus dalam ujian besar, seperti Yusuf, Rut, Ester, dan Daniel.

Karakter dikembangkan dan ditunjukkan melalui ujian-ujian, dan seluruh kehidupan adalah ujian. Anda selalu diuji. Allah terus-menerus mengamati tanggapan anda pada orang-orang, pada masalah, pada keberhasilan, pada konflik, pada penyakit, pada kekecewaan, dan bahkan pada cuaca ! Allah bahkan mengamati tindakan-tindakan yang paling sederhana seperti ketika anda membuka pintu untuk orang lain, ketika anda mengangkat sepotong sampah, atau ketika anda bersikap sopan terhadap seorang juru tulis atau pelayan.

Kita tidak tahu semua ujian yang akan Allah berikan kepada anda, tetapi kita bisa memperkirakan sebagian, berdasarkan alkitab. Anda akan diuji melalui perubahan-perubahan besar, janji-janji yang tertunda, masalah-masalah yang sulit, doa-doa yang tak terjawab, kritikan-kritikan yang tidak layak diterima, dan bahkan tragedi yang tidak masuk akal. Dalam kehidupan saya sendiri saya melihat bahwa Allah menguji iman saya melalui masalah-masalah, menguji pengharapan saya melalui cara saya menangani harta, dan menguji kasih saya melalui orang-orang.

Ujian yang sangat penting adalah bagaimana anda bertindak ketika anda tidak bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan anda. Kadang-kadang Allah dengan sengaja mundur, dan kita tidak merasakan kedekatan-Nya. Seorang raja bernama Hizkia mengalami ujian ini. Alkitab berkata, " Allah meninggalkan dia untuk mencobainya, supaya diketahui segala isi hatinya. " ( 2 Tawarikh 32:31 ) Hizkia telah menikmati suatu persekutuan yang dekat dengan Allah, tetapi pada titik penting dalam kehidupannya Allah meninggalkannya sendiri untuk menguji karakternya, untuk menunjukkan kelemahannya, dan untuk mempersiapkan dia guna menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.

Ketika anda memahami bahwa kehidupan adalah ujian, anda menyadari bahwa tidak ada hal yang tidak penting di dalam kehidupan anda. Bahkan kejadian terkecil memiliki arti penting bagi pengembangan karakter anda. Tiap hari merupakan hari yang penting, dan setiap detik adalah kesempatan bertumbuh untuk memperdalam karakter anda, untuk menunjukkan kasih, atau untuk bergantung pada Allah. Beberapa ujian terasa sangat berat, sementara ujian lainnya bahkan tidak anda perhatikan. Tetapi semuanya memiliki makna kekal.

Kabar baiknya adalah Allah ingin agar anda lulus dalam ujian-ujian kehidupan itu, sehingga Dia tidak pernah membiarkan ujian-ujian yang anda hadapi itu melampaui kasih karunia yang Dia berikan kepada anda untuk menghadapinya. Alkitab berkata, " Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. " ( 1 Korintus 10:13 )

Setiap kali anda lulus dalam sebuah ujian, Allah melihat dan membuat rencana untuk memberi anda upah di dalam kekekalan. Yakobus berkata, " Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barang siapa yang mengasihi Dia. " ( Yakobus 1:12 )