Minggu, 30 Desember 2012

Kehidupan adalah sebuah penugasan sementara



Kehidupan di bumi adalah suatu penugasan sementara. Alkitab penuh dengan metafora yang mengajarkan tentang sifat kehidupan di muka bumi, yaitu bersifat singkat, sementara, dan fana. Kehidupan digambarkan seperti kabut, pelari cepat, nafas, dan segumpal asap. Alkitab berkata, " Sebab kita, anak-anak kemarin ... hari-hari kita seperti bayang-bayang di bumi. " ( Ayub 8:9 )

Untuk memanfaatkan kehidupan anda secara maksimal, anda jangan pernah melupakan dua kebenaran : Pertama, dibandingkan dengan kekekalan, kehidupan amatlah singkat. Kedua, bumi hanyalah tempat kediaman sementara. Anda tidak akan lama berada di sini, jadi jangan terlalu terikat pada bumi. Mintalah agar Allah membantu anda melihat kehidupan di bumi sebagaimana Dia melihatnya. Daud berdoa, " TUHAN, tolong aku untuk menyadari betapa singkatnya hidupku di dunia ini ! Tolong aku untuk mengetahui bahwa waktuku di sini hampir habis !" ( Mazmur 39:4 )

Berulang-ulang Alkitab membandingkan kehidupan di bumi dengan kehidupan sementara di sebuah negeri asing. Bumi bukanlah rumah tetap atau tujuan akhir anda. Anda hanya lewat, hanya berkunjung ke bumi. Alkitab menggunakan istilah-istilah seperti orang asing, peziarah, pendatang, pengunjung, dan musafir untuk menggambarkan kediaman kita yang singkat di bumi. Daud berkata, " Aku ini orang asing di dunia " ( Mazmur 119:19 ) dan Petrus menjelaskan, " Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, ... maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini." ( 1 Petrus 1:17 )

Identitas anda ada di dalam kekekalan, dan tanah air anda adalah surga. Bila anda memahami kebenaran ini, anda akan berhenti cemas memikirkan soal " memiliki semuanya " di bumi. Allah berbicara dengan sangat jelas tentang bahayanya jika kita hidup demi waktu sekarang dan jika kita memakai nilai-nilai, prioritas-prioritas, dan gaya hidup dunia sekeliling kita. Bila kita bermain-main dengan pencobaan-pencobaan dunia ini, Allah menyebut perzinahan rohani. Alkitab berkata, " Kamu tidak setia kepada Allah. Jika kamu hanya mau mengikuti kehendakmu sendiri, bermain-main dengan dunia setiap ada kesempatan, maka kamu akhirnya menjadi musuh Allah dan orang yang melawan kehendak-Nya. " ( Yakobus 4:4 )

Bayangkan jika anda diminta oleh negara anda untuk menjadi duta besar di sebuah negara musuh. Anda mungkin harus belajar bahasa yang baru dan menyesuaikan diri dengan beberapa kebiasaan dan perbedaan budaya agar bisa berlaku sopan dan bisa menyelesaikan misi anda. Sebagai seorang duta besar, anda tidak akan mampu mengisolasi diri dari musuh. Untuk menyelesaikan misi anda, anda tentu harus memiliki kontak dan berhubungan dengan mereka.

Tetapi seandainya anda menjadi begitu nyaman dengan negara asing ini sehingga anda jatuh cinta padanya, dan lebih menyukainya ketimbang tanah air anda. Kesetiaan dan komitmen anda akan berubah. Peran anda sebagai duta besar akan membahayakan. Bukannya mewakili negara asal anda, anda akan mulai bertindak seperti musuh. Anda akan menjadi pengkhianat.

Alkitab berkata, " Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus " ( 2 Korintus 5:20 ) yang menyedihkan, banyak orang Kristen telah mengkhianati Raja mereka dan kerajaan-Nya. Mereka dengan bodohnya menyimpulkan bahwa karena mereka hidup di bumi, maka bumi lah rumah mereka. Padahal bukan. Alkitab dengan jelas berkata, " Saudara-saudaraku, dunia ini bukan rumahmu, karena itu jangan membuat dirimu betah di dalamnya. " ( 1 Petrus 2:11 ) Allah memperingatkan kita untuk tidak terlalu terikat pada apa yang ada di sekeliling kita karena semua itu bersifat sementara. Kita diberi tahu, " Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. " ( 1 Korintus 7:31 )

Fakta bahwa bumi bukanlah rumah terakhir kita memperjelas mengapa, sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita mengalami kesulitan, penderitaan dan penolakan di dalam dunia ini. ( Yohanes16:33 ; 16:20 ; 15:18-19 ) Hal tersebut juga menjelaskan mengapa beberapa janji Allah tampaknya tidak digenapi, beberapa doa tampaknya tidak dijawab, dan beberapa keadaan tampaknya tidak adil. Ini bukanlah akhir kisah.

Untuk menjaga agar kita tidak menjadi terlalu terikat pada dunia, Allah membiarkan kita merasakan cukup banyak kesedihan dan ketidakpuasan di dalam kehidupan, yakni keinginan-keinginan yang tidak pernah akan terpenuhi di sisi ini dari kekekalan. Kita tidak benar-benar bahagia di sini karena seharusnya memang tidak ! Bumi bukanlah rumah terakhir kita ; kita diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih baik.

Seekor ikan tidak pernah bahagia hidup di daratan, karena ikan dijadikan untuk air. Seekor elang tidak pernah bisa merasa puas jika hewan itu tidak dibolehkan terbang. Anda tidak akan pernah merasa benar-benar puas di bumi, karena anda dijadikan untuk sesuatu yang lebih dari itu. Anda akan memiliki saat-saat bahagia di sini, tetapi tidak ada yang sebanding dengan apa yang Allah telah rencanakan bagi anda.

Menyadari bahwa kehidupan di bumi hanyalah suatu penugasan sementara seharusnya mengubah nilai-nilai anda secara radikal. Nilai-nilai kekal dan bukan nilai-nilai sementara, yang seharusnya menjadi faktor-faktor penentu bagi keputusan-keputusan anda. Alkitab berkata, " Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal. " ( 2 Korintus 4:18 )

Mengira bahwa tujuan Allah bagi kehidupan anda adalah kekayaan materi atau keberhasilan populer sebagaimana yang didefinisikan oleh dunia adalah salah besar. Kehidupan yang berkelimpahan tidak ada kaitannya dengan kelimpahan materi, dan kesetiaan kepada Allah tidak menjamin keberhasilan dalam karier atau bahkan dalam pelayanan. Jangan pernah memusatkan perhatian pada mahkota-mahkota yang sementara. ( 1 Petrus 2:11 )

Paulus setia, tetapi dia berakhir di penjara. Yohanes Pembaptis setia, tetapi dia dipenggal. Jutaan orang yang setia mati sebagai martir, kehilangan segalanya, atau mencapai ajal tanpa ada hasil apa pun. Tetapi akhir kehidupan bukanlah akhirnya !

Ketika kehidupan menjadi sulit, ketika anda diliputi oleh keraguan, atau ketika anda bertanya-tanya dalam hati apakah hidup bagi Kristus layak diperjuangkan, ingatlah bahwa anda belum pulang. Saat kematian, anda bukan meninggalkan rumah, anda justru pulang.